Tanah Tertinggi Pulau Dewata – Gunung Agung

Hell-O Bali!

Gunung Agung Via Pura Pasar Agung - Selat
Gunung Agung Via Pura Pasar Agung – Selat

Buka – buka album foto entah kenapa kepengen banget ceritain tentang Gunung Agung. Tapi ini bukan gunung Agung yang ada di mall – mall yah, gue bukan anak emol :p ini tentang menikmati Bali dari tanah tertingginya. Entah kenapa sekali lagi gue bilang keindahan Bali tuh bukan Cuma pantainya ajah, karena Bali bukan lagi Cuma soal Kuta atau soal pantai lain. Tapi coba deh sekali – kali liat Bali dari ketinggian. Indah banget..

Saat itu setelah turun dari Gunung Batur, gue hanya punya waktu istirahat setengah hari kemudian malamnya sekitar jam 7an gue ngelanjutin perjalanan lagi ke Karangasem untuk mendaki Gunung Agung. Kali ini karena waktunya padat, gue dan temen – temen lebih memilih day trek /  tek – tok naik malam dan langsung turun pagi harinya. Jarang banget gue mau naik gunung malam, tapi kali ini gue harus coba dan tentunya dengan perlengkapan yang sudah disiapkan se-safety mungkin.

Setelah 3 jam perjalanan,akhirnya gue sampai juga disatu tempat namanya Pura Pasar Agung – Selat, Karangasem. Selain via Pura Besakih, dari Pura Pasar Agung – Selat kita juga bisa mendaki Gunung Agung, bedanya jalur via Pasar Agung lumayan berat karena nanjak tapi dekat jaraknya. Sedangkan via Besakih disarankan untuk nge-camp dan butuh waktu 2 hari 1 malam normalnya. Dan ada satu jalur lagi yaitu via Budakeling lewat nangka.

Sebelum start trekking, gue sempetin untuk carbo-loading dan tidur dulu. Pendakian akan dimulai sekitar pukul 1.30pagi. Suasana di Pura Pasar Agung itu bener – bener mistik banget, tenang, syahdu, dan malam itu banyak bintang bertaburan. Gue suka banget, walopun sedikit serem karena sepi. Oiyah mendaki Gunung Agung itu wajib pakai guide (jika belum pernah), tapi ini bagus karena menjadi standard pendakian disini, walaupun banyak pendaki yang gak mau pakai jasa guide karena katanya mahal sekitar 250.000 –  350.000/day. Waktu itu gue pakai 1 guide dan 1 porter dikenakan Rp. 600.000.

Uniknya,sebelum pendakian gue ditanyain oleh guide tersebut.. “ada bawa makanan yang mengandung daging sapi?” gue bilang ga ada. Sambil curious gue bertanya “kenapa memangnya Pak?”  mereka menjelaskan “gunung Agung adalah gunung yang suci di Bali, gunung ini sudah seperti “mekahnya” umat Hindu di Bali, dan tentunya tau dong kalau umat Hindu di Bali tidak memakan daging sapi, oleh sebab itu makanan yang mengandung daging sapi, tidak diizinkan dibawa mendaki ke gunung Agung” cukup jelas alasannya, dan sebagai pendatang gue harus menghormati kebudayaan dan adat istiadat setempat.

Pukul 1.30 gue dan temen – temen memulai pendakian, udara kali itu dingin banget, angin semilir menemani pendakian gue. Masuk hutan bambu, jalan setapak mulai dilewati sedikit menanjak perlahan tapi pasti. Tubuh memang sedikit lelah tapi semangat tidak pernah lelah kalau untuk yang namanya “mendaki gunung”. Vegetasi mulai berubah, hutan mulai menghilang diganti oleh pepohonan yang tidak terlalu tinggi. Jalur semakin terjal, bebatuan menghiasi track yang gue lalui malam itu. Ampun gilaaakkk… gue banyak berhenti karena tanjakannya bener – bener asssoooyy..

Gue mulai ditinggal 2 orang teman, karena gue lebih memilih nemenin si Cemoonnkk yang sudah mulai ga tahan dengan ngantuknya. Sepanjang jalan dia bilang ga tahan karena ngantuk, bawaannya pengen tidur, iyah dia emang pelor, tapi gak tidur di jalur juga kali. Kenapa? Karena dia bisa kena potensi AMS (acute mountain sickness) atau penyakit ketinggian dan itu fatal akibatnya. Perlahan gue tetap dampingin Cemoonnkk yang sudah mulai merem sambil jalan. Ampun takutnya… bisa – bisanya dia jalan sambil merem, nah gue apa kabar? gue takut dia jatoh karena jalur yang cukup terjal – inilah ajaibnya travelmate gue XD.  Bapak Guide masih setia nemenin kami, dan itulah gunanya guide setidaknya gue merasa aman karena ada orang yang berpengalaman dan tau jalur pendakian ini.

Jalur semakin nanjak gak karuan, dan Cemoonnkk pun masih ngantuk disepanjang jalan. Perlahan kami berdua tetap mendaki satu persatu batu tinggi yang butuh tenaga ekstra untuk melewatinya. Kerlap kerlip lampu di kota sudah mulai terlihat, gue sudah semakin tinggi. Bali terlihat begitu indah dari ketinggian…

sunrise
sunrise

Matahari mulai muncul dari ufuk timur, warna orange pekat menghiasi langit pertanda fajar akan berganti pagi. Indah banget hari itu, ditemani angin yang gue bilang kenceng banget mungkin sekitar 100km/jam kali. Gila, untuk manjat batu pas angin lagi dateng, gue harus merebahkan badan ke batu dan pegangan, karena badan akan berasa goyang tertiup angin. Bahaya banget tapi sepadan dengan pemandangannya. Pendaki lain mulai bermunculan, gue ketemu 2 orang pendaki Bali, 1 orang pendaki Bandung, 1 orang Jepang dan sisanya banyak “Ebul” maksud gue “Bule” mungkin ada sekitar 5 rombongan. Puncak sang Agung belum juga keliatan, sementara tenaga sudah hampir terkuras abis, gue mulai lapar, gue memutuskan untuk istirahat sejenak untuk ngemil sambil nungguin Cemonnkk istirahat.

Jalur Pendakian Gunung Agung
Jalur Pendakian Gunung Agung

Pendaki dari Bali tersebut negor gue, dan bertanya gue darimana.. “gue bilang gue pemula dating dari Jakarta” percakapanpun  mengalir dan dia bilang “mbak, tenang ajah kalau sudah mendaki Gunung Agung via Selat, mbak bisa mendaki gunung Rinjani, Semeru, atau gunung laiinya dengan lebih mudah, karena jalur Gunung Agung via Selat ini termasuk jalur yang tersulit” – duh dalem hati gue, mudah dari hongkong, tetep ajah yang namanya gunung yah susah dan butuh tenaga extra makanya naik gunung bukan hobby sembarangan karna disitulah nikmatnya #ttssaahh  *dia ga tau kemarin gue abis dari Rinjani dan hamper mewek karna jalur muncaknya :p *tapi beneran buat gue jalur Agung jauh lebih berat daripada jalur lainnya.. so far :)

Jalurnya Asooooyyy
Jalurnya Asooooyyy
Puncak Agung 2
Puncak Agung 2 – My Travelmate Cemoonnkk

10 menit kemudian, akhirnya gue tiba juga di Puncak 2 Gunung Agung tentunya gue melewati batu – batu yang makin terjal dan susah banget untuk dilewatin. Ga ada hal lain yang gue rasain kecuali rasa bahagia melihat megahnya Sang Agung, puncak 1 Gunung Agung terlihat gagah berdiri tepat didepan mata gue.

Puncak Agung 3.142mdpl
Puncak Agung 3.142mdpl
Kawah Gunung Agung
Kawah Gunung Agung

Kawah Gunung Agung yang masih aktif terlihat luas banget. Gunung Agung dengan tinggi 3.142mdpl adalah gunung berapi dengan tipe stratavolcano mempunyai keistimewaannya sendiri, pemandangan yang disajikan indaaaaaaaaaaaaahhhh banget!! Ga bosen deh liatnya. Di Puncak Agung terdapat semacam tempat berdoa untuk masyarakat Hindu, ada sajen, patung – patung seperti pura kecil. Hawa mistiknya juga masih berasa kental sekali. Saat turun nanti kita akan melewati “tirta” tempat air suci yang dipercayai oleh umat Hindu, dan disepanjang jalurnya di dekat Tirta, gue nemuin banyak banget monyet, sama seperti di Batur atau di Rinjani.

From The Roof Top Of Bali - 2nd Peak Of Mt. Agung
From The Roof Top Of Bali – 2nd Peak Of Mt. Agung
Tempat Doa Umat Hindu di Gunung Agung
Tempat Doa Umat Hindu di Gunung Agung
my team..
my team..

Gunung Agung jadi salah satu Gunung Favorit gue, jalurnya yang ampun susah banget.. beneran.. gillaakkk.. tapi terbayar dengan pemandangan yang aduhai indah banget.. ini bukan versi on the spot loh, tapi versi gue sendiri :D – liat ajah nih di videonya disini :D Bali Adrenaline

Coretan di Gunung Agung dari si tolol Btw, just ignore the model :p
Coretan di Gunung Agung dari si tolol
Btw, just ignore the model :p

Oh iyah tapi sayang, di Gunung Agung sudah banyak orang – orang tolol yang coret – coret bebatuan disepanjang jalur. Kebayang dong gunung suci kaya gituh dikotorin, sangat menyedihkan.. buat gue orang yang ngotorin alam itu lebih rendah daripada sampah yang dibuat soooo pathetic!

Ah! Indah banget hari itu, bisa sampai di Puncak Agung dengan selamat, dan tentunya kembali ke kota dengan selamat, walaupun harus nemenin orang tidur disepanjang jalur :D tapi itulah gunanya sahabat bukan? Dia ga akan biarin sahabatnya jalan sendirian saat mendaki, karena buat gue puncak gak akan lari kemana – mana, namun keselamatan sahabat gue adalah yang utama :)

travelmate
travelmate
Jangan lupa Selfie everywhere :D
Jangan lupa Selfie everywhere :D

So, pemilihan teman trekking juga penting, carilah teman/sahabat yang bisa lo percaya untuk nemenin lu saat mendaki, bukan yang ninggalin lo saat lo susah/sakit, bukan yang hanya menunggu lo dipuncak, tapi “mereka yang akan selalu berjalan bersama lo apapun keadaan lo”

~abex~

the cloud above mt. Agung
the cloud above mt. Agung
Mt. Agung
Mt. Agung

All photo belong to Abex & Billy Djokosetio

Advertisements