Bagaimana Sebuah Foto Bisa Merubah Hidup

       Welcome August!

Bakhtaphur

Banyak harapan yang ditanamkan bulan ini, banyak doa yang dinaikan dibulan ini. Semua bukan soal ulang tahun, namun soal mimpi yang hampir hancur karena sebuah musibah. Dan saya belajar banyak melalui hal yang bernama “musibah”

Tuhan mau saya beristirahat sejenak dari perjalanan kaki saya yang hobby mendaki gunung. Malam ini saya menerung dan melihat kembali apa yang saya sudah lakukan tahun lalu, pikiran saya berlalu menuju tempat dimana saya mempunyai banyak cerita dan mengawali semua perjalanan saya. Saya membuka folder foto yang bertuliskan “Nepal” they called it “Never Ending Peace And Love” such an amazing country that I’ve ever been.

Never Ending Peace And Love

Satu per satu foto membawa saya akan pengalaman yang luar biasa di Nepal. Saya klik lagi foto – foto yang bisa membuat saya tersenyum dan kagum karena hari itu saya dan tim adalah orang Indonesia yang berhasil menapaki kaki ini di ketinggian 5.700 (mdpl) di kawasan Langtang Himalaya. Puncak Yala menjadi satu bagian cerita berharga di dalam hidup saya.

Summit Attack Yala Peak 5700masl

Langtang Himal

Saya terdiam sedih, tangan saya mulai mengelus kaki saya dengan lembut sambil berkata dalam hati “lekaslah sembuh, saya sudah ingin berjalan kembali dan melihat indahnya dunia” . Air mata ini mengalir, saya tutup folder album Nepal dengan perasaan hancur.

I miss my feet to walk and see the beauty of the world

“apakah saya masih mempunyai harapan untuk berjalan dan mendaki gunung lagi melihat keindahan dunia dari ketinggian?”

Kecelakaan tiga bulan lalu, membuat kaki ini harus beristirahat. Satu pen dan 6 sekrup dipasang untuk menyambung kaki yang patah dan dislokasi. Saya masih bisa tersenyum ketika saya harus kehilangan jadwal perjalanan yang sudah saya atur selama beberapa bulan ini. Saya dan travelmate saya memang sudah berencana untuk mendaki gunung, menjelajah setiap keindahan dunia bahkan berencana untuk kembali ke Nepal dan berpetualang lagi ke Pegunungan Himalaya.

Ah sudahlah, sejenak saya mengubur semua mimpi dan semua rencana. Untuk apa? Hanya bikin mupeng dan makin ngenes karena tidak mungkin ngetrip pakai tongkat dengan kaki dibalut gips yang super berat ini *sambil ngelus – ngelus kaki* saya mengalihkan pikiran dengan bermain twitter. Saat itu saya sedang membaca tweet  seorang penulis terkenal bernama Trinity. Dia sedang menuliskan cerita tentang buku berikutnya yang akan segera dia release. Semua destinasi super yang dia pamerkan di twitter bikin saya terkagum – kagum, sampai dimana saya membaca tentang Peru, akh! Itu mimpi saya! Makin ngelus kaki namun makin penasaran ketika Trinity memamerkan sebuah video komersial dari pariwisata Peru, yah makin mupeng dong gue nya (dalam hati ngenes berguman).

Karena makin penasaran saya buka blog “The Naked Traveler” and Bingo! Yang saya dapatkan bukan cerita tentang Peru, Machu Picchu atau apalah melainkan sebuah poster Air Asia yang bertuliskan

[Adv] Kompetisi blog Air Asia berhadiah ke Nepal gratis!

 Saya mengamati setiap tulisannya, makin galau dan makin kacau rasanya. Namun kali ini bukan kehancuran hati yang menyebabkan saya galau membaca soal Nepal, bukan soal kesedihan hati yang sedang meratapi kaki yang masih belum bisa berjalan normal tanpa tongkat, tapi ini soal “bangkit” soal semangat yang tiba – tiba datang. Rasanya seperti ditampar waktu saya berpikir “akh! Mana bisa saya menulis? Pasti susah menang kalau ikutan lomba blog kompetisi kaya gini. Orang blog sendiri ajah masih carut marut berantakan”  makin berpikir kaya gitu, makin berasa ditampar berkali – kali sama malaikat yang sambil bilang “cemen lu, segitu doang? Nyerah? Kaki patah bukan alasan untuk gak bisa wujudkan mimpi woy”

Ah, masa saya nyerah? Saya merenung dan kembali lagi membuka album foto saya. Saya perhatikan kembali semua foto sambil dihantui tulisan Air Asia “pergi ke Nepal gratis – Nepal Gratis cyin – ke Nepal gretongan boooookkk” akh galau! Tiba -tiba telunjuk saya berhenti disalah satu foto yang diambil dari handphone butut,

Fly With Air Asia

“foto yang butuh banyak di edit karena blur, foto yang akhirnya membuat saya berpikir untuk menulis semua hal yang saya rasakan seperti saat ini, foto yang membuat saya berpikir bahwa perjalanan saya tidak akan berhenti disini hanya karena kaki yang patah, foto yang mengembalikan semangat saya yang sudah hampir sirna, foto yang membuat saya berpikir bahwa ini bukan soal kompetisi, namun soal memupuk kembali keberanian untuk membangun mimpi”

Well, you will not believe how that photo can change my mind, my broken mind.

Bimbang, kemudian hati saya berguman “bukankah penyeselan terbesar adalah ketika kita tidak mengambil kesempatan tersebut?” – take a chance now and just live like there’s no tomorrow my mind told me like that.

Entah bagaimana sebuah tulisan atau foto bisa merubah pemikiran seseorang, merubah sebuah pandangan dan mengembalikan semua harapan. Sounds like a bull? But its true, I feel it now. Seperti bangun dari tidur panjang, bangkit kembali dengan sebuah harapan.

“I miss to walk again and see the beauty of the world”

Ini memasuki bulan ketiga setelah pasca operasi pertama, dengan semangat saya bergegas menemui dokter karena hari ini dokter akan melepas gips saya. How happy me? Semua benar – benar awal yang baik, dan tentunya saya berharap yang baik untuk hari – hari kedepan. Dokter bilang bahwa saya harus bersiap untuk operasi kedua saya untuk melepas salah satu sekrup agar saya bisa kembali berjalan. Akh! Rasanya benar – benar gak sabar untuk menyambut hari operasi tersebut. Pertanyaan pertama yang saya lontarkan kepada dokter adalah “dok, kapan saya boleh naik gunung?” – dengan tersenyum manis dokter yang semasa mudanya juga suka mendaki gunung tersebut bilang “whenever your feet ready – yah kasih sebulan terapi kemudian bulan kedua kamu bisa mendaki lagi”

I miss hiking dok! – betapa senangnya saya mendengar berita itu, sampai hingga saya menulis semua itu kedalam tulisan, bahkan “words can’t express my feeling” perkataan dokter tersebut makin membuat saya semangat untuk menulis tulisan ini.

I will raise!

Bukan soal soal kompetisi lagi, melainkan ini soal berani menuliskan apa yang saya alami dan rasakan. Mungkin kedengarannya Lebay, tapi percayalah saat dalam keadaan sulit “harapan” lah yang bisa membuat kita kuat, begitupun dengan yang saya rasakan.

Seminggu lagi saya akan menjalani operasi kedua saya, dengan sedikit cemas namun penuh harapan saya akan menghadapi hari tersebut. Makin dekat waktu operasi, saya semakin rajin melihat foto – foto saya di Nepal dan saya berguman “I will be back someday, to catch another dream” (continue).

IMG02461-20130731-1600  IMG02463-20130731-1600

Advertisements