Tips Ala Anak Bebek : Memilih Teman Mendaki Gunung

Hell-O World,

tips-03

Gue lagi kangen banget nih naik gunung.. wondering naik gunung bareng travelmate, bareng emen – temen, ketawa – tawa, talking about those silly jokes and play around with them.. whooooaaa!!

Buat gue pribadi, gue lebih seneng mendaki gunung bareng dengan temen – temen atau sama si doy ((doy hahhahaha)).. Gue lebih prefer mendaki dengan tidak terlalu rame dalam 1 group, misal hanya berlima atau berenam biar genap hahhaha..kecuali kalo ada special occasion yang mengharuskna mendaki dengan banyak orang..

Alasannya, mungkin karena gue lebih seneng suasana tenang yang gak rame banget kalo pas di gunung.. :D

Oiyah selain itu juga, gue dilarang banget Trekking sendirian sama nyokap bokap gue.. ((sendirian banget??)) hahhahaa… dan gue lebih seneng nikmatin kebahagiaan di alam dengan dirinyaaa *eettjjiiiyyeeehhh…. I mean dengan temen-temen

Nah karena gue cukup pemilih untuk siapa yang akan menjadi travelmate atau teman trekking gue, berikut nih gue kasih #TipsAlaAnakBebek tentang memilih teman mendaki gunung, monggo si simak… cekibrooottt :

img-20150719-wa1046

1. Untuk pemula (kaya gue) pastikan elu pilih temen mendaki yang berpengalaman, yang tau medan, yang mengerti mendaki gunung.. jangan sampe begitu emergency, dia gak tau harus ngapain eh malah kabur ninggalin elu.. *ada beberapa case terjadi di gunung, temen nya lg hampir Hypo malah dibilang kesurupan, dan malah ditinggalin di tenda sendirian.. karena mereka gak tau harus apa dan gak ada pengalaman… Oh please .

2. Pastikan pilih temen jalan yg mau diajak berbagi, jangan cuma mau gratisan dan makan paling banyak.. masalah duit itu sensitif, dan masalah orang yang gak mau berbagi itu paling malesin, udah pelit, makan sendiri, ngemil gak bagi-bagi.. mau nya gratis lg.. duh.. *pengen disiram air keras hahahhaha..

img-20150719-wa1045

3. Cari temen yang mau diajak TEAM WORK, berbagi sama beban, dan bisa diajak jd team yang seru. jangan sampe elu doang yang bangun tenda, masak, cari air, eh dia malah enak-enakan modusin orang atau mungkin tidur ajah kerjaannya.. *kalo ada yang kaya gini, pastikan kalian bawa lem tikus, baygon atau obat pencahar sodorin ke dia… hehehe ✌✌

4. Pilih teman yang susah senang bareng gak akan ninggalin dibelakang.. minimal harus bisa saling support.. nguatin dan bukan yang jatuhin mental..

5. Ini penting, Kalo mau Modusin temen jalan nya, pastikan elu modus ke orang yang tepat, jangan sampe elu udah capek gendong dia ke puncak, bawain carrier kulkas 3 pintu punya dia, eeeh cinta malah ditolak… *peeerriiihh braaayyy periihhhh *emaapp :p

img-20150719-wa1044

  1. Cari teman yang gak pelit ilmu, ini juga kudu dicatet nih… perjalanan itu soal berbagi.. ilmu itu juga harus dibagi supaya bisa saling belajar dan bertukar pengalaman..
  2. Pilih teman yang mau bertanggung jawab jika ada sesuatu hal yang menimpa elu, minimal dia gak akan ninggalin elu di belakang lah.. *tapi bukan bertanggung jawab soal nganu loh yaaahh *__*
  3. Yang terakhir sebelum mencari teman jalan, pastikan berkaca dulu dengan diri sendiri, mau nuntut lebih tapi pastikan koreksi diri hehehe.. :)
img-20150719-wa1037
In frame : Pape – Dede – Ragil – Dee – Billy – Abex Photo 2014 – Mt. Papandayan

Kira-kira seperti itu Tips memilih teman mendaki, karena menurut gue tidak akan menyenangkan jika mendaki bareng dengan orang yang tidak sejalan… berbeda boleh tapi setidaknya jangan sampai merugikan :D

Selamat memilih teman mendaki.. oiyah Pastiin juga ada yang mau mendaki sama elu yah…. *eeehhh maap
Sekian dan terima pelukan hangat! 😜

PS. ini foto-foto lama saat pendakian ke Papandayan.. edisi kangen Trekking sama Dee! :D

Cheers

Abex

Advertisements

Apa Sih Tujuan Mendaki Gunung?

Hell-O Lombok!

The Great And Majestic Rinjani
The Great And Majestic Rinjani

 Akh, kalau bicara kota yang satu ini gak akan ada habisnya apalagi kalau bahas soal keindahan Lombok, mulai dari gunung, pulau, pantai, sampai dalam lautannya. Semuanya Indah! Memang Negara Indonesia itu luar biasa indah banget, Cuma sayang ajah ada beberapa orang – orang tolol yang hobbynya merusak alam Indonesia dengan membuang sampah sembarangan, bahkan gak jarang sebagian dari mereka merusak ekosistem yang jelas – jelas dilindungi. Contohnya seperti perjalanan gue kali, gue dapat kesempatan untuk mendaki Gunung Rinjani, siapa yang gak kenal gunung ini. Gunung Volcano terindah di Indonesia dengan ketinggian 3.726 meter diatas permukaan laut dan gunung ini adalah gunung tertinggi ke 3 di Indonesia, dan satu lagi yang paling menawan gunung ini terkenal dengan danau Segara Anaknya.

Rinjani dari Desa Sembalun
Rinjani dari Desa Sembalun

Dulu waktu gue berumur 13 tahun, bokap gue bilang “setelah Semeru, nanti jangan lupa ke Rinjani yah.. itu gunung indah impian Papa” dan gue selalu ingat kata – kata itu, sayangnya bokap gue sudah terlalu sibuk sehingga sudah sulit untuk mewujudkan impiannya untuk mendaki gunung Rinjani, tapi begitu bangga gue menceritakan tentang Rinjani kepada Beliau karena akhirnya gue berhasil mewakilinya dan mewujudkan impiannya. Gue berhasil menaklukan ego dan diri sendiri sehingga gue diberikan izin oleh yang Empunya Kuasa yaitu sang Gusti untuk menapaki kaki ini di tanah tertinggi di Lombok tersebut. Tsssaaaeeelllaahh Bahasa gue… yah yang jelas gue bangga lah…

Mendaki Gunung
Mendaki Gunung

Tapi perjalanan itu tidak semudah yang orang – orang pikirkan, bahwa mendaki gunung hanya tinggal naik ajah terus camping ceria, kemudian masak – masak, muncak dan bawa turun sampah (walaupun banyak juga yang ninggalin sampah sih), kemudian foto – foto nunjukin kalau udah sampai puncak dan foto bergaya dengan trash bag di depan atau eksis dengan serenceng botol air mineral yang sudah diikat digantung di carrier dan menunjukan bawa “gue udah bawa sampahnya nih” ~ padahal tanpa mengurangi rasa hormat, itu isi carrier masih kosong, sampah botol masih ada yang bisa dimasukin ke carrier.. tapi…. Entahlah…. Sebagian dari mereka ingin menunjukan bahwa “saya sudah bertanggung jawab membawa sampah turun” entah maksudnya apa.. namun harus dengan dicapture foto dengan sampah dan jangan lupa di upload biar semua orang tahu bahwa (sekali agi) “gue udah bawa sampahnya turun” :,)

Well, semua memang terserah tapi sebagian dari mereka mendaki gunung untuk mendapatkan pengakuan bahwa “gue udah naik gunung ini, berhasil muncak 10x, dan udah bawa turun sampahnya” anyway, gue bukan mau bahas itu… tapi bisakah kita berdiam sebentar dan kembali mengingat “apa tujuan dari mendaki gunung?” semua jawaban ada dihati dan kembali lagi ke masing – masing pribadi :)

 ………………………………

???????????????????????????????

Buat gue, pendakian Rinjani adalah salah satu pendakian terberat ketika summit attack, walaupun gue bisa melewatinya lantas bukan berarti gue merasa hebat, tapi gue seperti ditampar, bahwa mendaki gunung gak segampang itu, apalagi ketika gue melihat banyak orang yang gak bisa summit karena fisik drop. Sebagian dari mereka menganggap “enteng” ketika melewati 7 bukit penyesalan, mereka lupa untuk melakukan aklimatisasi, tidak beradaptasi dengan keadaan sekitar, bahkan mereka berjalan terlalu cepat karena menganggap padang savanna Sembalun sangat mudah untuk dilewati. Mereka lupa mengontrol ambisi, sehingga mereka kehabisan energy untuk summit attack. Dan akhirnya ambisi yang berlebihan mengalahkan semua pemandangan indah di atas puncak sana.

Karena mendaki gunung bukan hanya soal “puncak” tapi soal bagaimana kita mgalahkan ambisi agar kita bisa sampai kembali ke rumah dengan selamat.

Savanna Sembalun
Savanna Sembalun

Rinjani hari itu cukup bersahabat, padang Sembalun yang indah menjadi saksi awal perjalanan gue ditemani travelmate yang baru pertama kali naik gunung di Indonesia (tapi udah naik beberapa kali naik gunung di luar negri – kibas rambut *pengen dikeplak :p) serta Pak Emy dan temannya yang selalu setia menemani kami dan membantu kami membawa semua perlengkapan camping. Padang Sembalun dipenuhi sapi yang sedang merumput, terik matahari dan birunya langit menjadi kombinasi yang indah saat itu.

Pak Emy - He's The MEN! :)
Pak Emy – He’s The MEN! :)

IMG_20140825_130720

Jarak tempuh dari pintu masuk Sembalun sampai dengan Palawangan Sembalun sekitar 5-6 jam normal, bahkan ada yang bisa naik hanya 3-4 jam. Tapi maklum gue mah pendaki kura – kura, jalannya lambat dan gue lebih senang memperhatikan setiap tempat, jalur, flora dan fauna yang gue lewati jika gue berkunjung ke tempat baru. Dan jelas gak lupa untuk mengabadikannya agar bisa menjadi cerita yang bermanfaat.

Sunset dari Palawangan Sembalun
Sunset dari Palawangan Sembalun

Majestiknya Senja Palawangan Sembalun menyambut gue hari itu, sehabis diterpa hujan yang tiba – tiba datang, langit berubah menjadi begitu cantik. Ah, sunset nya keren banget ada diatas perbukitan Segara Anak! Takjub banget ngeliatnya, dan itu baru sebagian hal yang luar biasa dari Rinjani. Namun malam  diawali dengan angin kencang yang suaranya lumayan bikin takut, karena angin tersebut juga menerbangkan beberapa flysheet dari tenda – tenda pendaki lain. Bersyukur badai angin hanya sesaat, dan as always badai pasti berlalu karena badai berganti dengan gemerlap bintang dan milky way yang lagi – lagi memanjakan mat ague. Akh! Rinjani memang selalu memberikan kejutannya.

Menikmati Sunset dari Palawangan Sembalun
Menikmati Sunset dari Palawangan Sembalun

………………………..

Ternyata masih ajah banyak orang yang merusak keindahan gunung se-cantik ini, menyedihkan! Dengan hati kesal gue berusaha menghibur diri jalan – jalan disekitar Palawangan Sembalun, hal yang bikin geram adalah hampir disepanjang jalur banyak terdapat sampah, bukan hanya sampah tapi juga ada kotoran manusia – iyah taik.. taik..! jelas itu kotoran manusia, karena mana mungkin binatang abis buang air terus pakai tissue basah??!! “hellaawww…  itu binatang keren banget pake tissue basah buat cebok” ~ dan gue masih gak habis piker kenapa mereka itu orang – orang tolol itu buang air besar di pinggiran jalur, bahkan ada juga yang di jalur.. duuuhh…. Miris… sampe – sampe ada seorang bule yang bilang “smells like shit, all the way” OMG… why? :(

IMG02838-20131008-1144

sampah di Palawangan Sembalun
sampah di Palawangan Sembalun

Belum lagi coretan – coretan yang ada disetiap batu di gunung ini, entah kenapa beberapa orang yang tidak tau dimana letak otaknya, mereka senang mencorat – coret gunung – gunung di Indonesia. Yah, kalo mau jangan coret – coret nama di gunung lah, coret nama masing – masing di batu nisan.. abadi tuh… :’)

Vandalisme - Rinjani
Vandalisme – Rinjani

Beberapa sampah gue coba singkirkan dan kumpulin ke satu tempat supaya tidak berserak di jalan, beberapa kali gue coba untuk mewawancarai porter – porter disana dan coba cari tahu kenapa banyak banget sampah. Dan yes, ternyata bukan hanya tamu atau orang local yang buang sampah sembarangan, tapi sebagian dari mereka adalah porter – porter tersebut. Sebagian dari mereka mengaku kecewa karena mereka pernah ditipu penadah sampah Rinjani yang dikelola oleh TNGR yang memakai orang ketiga untuk menjadi penadah, namun sayang penadah tersebut kabur saat semua porter sudah dijanjikan sejumlah uang jika membawa sampah turun ~ dan para porter pun sakit hati dan kecewa…

Well, ternyata sekarang kalau sebagian orang – orang  “bawa sampah turun untuk diphoto dan di posting di socmed” kalau di Rinjani, “porter bawa sampah turun untuk dapat uang dan biar dapur ngebul katanya” – miris sih karena tidak semua orang bisa ikhlas, tulus, menjaga alam yang tanpa ada embel – embel dibayar, dihormati, biar tenar, eksis, atau apalah… pathetic! C’est La Vie..

………………………………..

Summit Attack Rinjani
Summit Attack Rinjani

Summit Rinjani gue kali itu benar – benar diberkahi, walaupun udah mau nyerah tapi mental dan hati masih sanggupin untuk jalan. Semua memang indah… gue makin kagum dengan Indonesia.. *diluar sampah nya yang menyebalkan* :)

Teman sejati adalah mereka yang selalu berjalan bersama-mu - bukan yang hanya menunggu di puncak (himpala)
Teman sejati adalah mereka yang selalu berjalan bersama-mu – bukan yang hanya menunggu di puncak (himpala)

Summit kali ini makin membuat gue melihat siapa “sahabat trekking” gue.. Gue makin yakin dengan pilihan travelmate gue.. yeap.. dalam hal ini, gue trauma pernah ditinggal naik gunung sama orang yang “ngakunya” “sahabat” karena pada akhirnya merekalah orang pertama yang ninggalin gue disaat gue tertimpa musibah di gunung.. (kejadian di Gunung Slamet ~ nanti gue tulis juga ceritanya).

Summit Attack Rinjani with Travelmate
Summit Attack Rinjani with Travelmate

Tapi beda kali ini… Cemoonnkkk selalu berjalan dibelakang gue, sebentar berhenti untuk mengingatkan gue beristirahat dan minum, bahkan

kami berdua pernah berada dititik terlemah saat summit Rinjani, “dimana mulut ini sudah berkata ampun lelah, dimana kaki ini sudah berhenti dan tidak mau melangkah.. dan dimana batin ini ingin menyerah” namun hati dan mental ini tidak luntur.. kami saling support hingga kami berdua bisa sampai di atap Dewi Anjani.

Finally!! We Made It!
Finally!! We Made It!

Keindahan rumah Dewi Anjani tersebut memang bikin semua orang berdecak kagum, padang savanna yang indah.. palawangan Sembalun yang luar biasa… Segara Anak yang damai…  kemudian sumber air panas yang bisa bikin rileks, ditambah jalur turun dan naik ke Palawangan Senaru yang gak ada abisnya – nanjaaaaaaaaaaaakkkkk teeerrrooooosssss!! Gak ada ampuuunnn… tapi pemandangannya sepadan dan keren banget… Gunung Baru Jari yang masih aktif dan selalu mengeluarkan asapnya, menambah eksotisme sekaligus “ngeri-ngeri” sedep kalo meletus hehehhee..

Gunung Baru Jari Dari Segara Anak
Gunung Baru Jari Dari Segara Anak

Sampai di Palawangan Senaru semua mata tidak akan berkedip sejenak menikmati karya sang Maha Pencipta yang luar biasa ini.  Sejenak berucap syukur atas semua pemandangan kereennn yang ah gilaaakkk deh.. keren banget!!

Pemandangan dari Palawangan Senaru
Pemandangan dari Palawangan Senaru

Hutan Senaru yang teduh, sinar matahari yang menemani dan mencuri masuk dari celah – celah pepohonan tinggi. “Keindahan mana lagi yang mau dihancurkan dengan sampah?  Bagian mana lagi yang ingin dikotori? belum puaskah kalian para perusak alam?”

Mt. Rinjani
Mt. Rinjani
Sumber Air Panas - Rinjani
Sumber Air Panas – Rinjani
Segara Anak Rinjani
Segara Anak Rinjani

Tolong, coba berpikir lagi sebelum naik gunung.. tidak perlu ikut – ikut naik gunung jika hanya ingin menambah sampah dan mengotori gunung ini.. tolong!

IMG_0310
“dan hidup bukan lagi soal pengakuan tentang menaklukan gunung manapun, melainkan mereka yang berbijak dan berani menaklukan diri sendiri”

So… ambilah waktu sejenak dan berdiam diri dan bertanya kembali, apa tujuan saya mendaki gunung? :)

Notes :

Itinerary yang gue ambil adalah Sembalun – Palawangan Sembalun – Summit Attack Rinjani – Segara Anak – Senaru (waktunya sekitar 4 hari 3 malam) harga porter per day saat itu Rp. 150.000/porter

~Abex~

All photo credits to Abex, Billy Djokosetio and Roynal Purnomo

Udah Tau Capek, Masih Juga Naik Gunung!

Hell-O World!!

Udah tau capek, masih juga naik gunung! Sebagian orang nyinyir tentang betapa lelahnya mendaki gunung, mereka bilang “ngapain lu naik gunung, udah naik sampe atas trus turun lagi, capek!” pernyataan itu jelas gak berlaku buat gue, gimana enggak dari kecil gue udah dibiasakan hidup di alam, bahkan sejak umur 6 tahun bokap gue udah ngajak gue naik gunung. Yah emang sih bokap gue gak se ekstrim “pasutri” sekarang yang baby nya berumur 3 bulan, 5 bulan, atau 8 bulan udah diajak naik gunung. Yah jaman nya bokap gue dulu belum kaya gituh :D karena dulu naik gunung bukanlah ajang gaya-gayaan. Gunung juga bukan tempat eksis, gituh sih kata bokap gue :p

Anyway, yang jelas gue belum pernah ngerasa ada jenuh atau bosan dalam mendaki gunung. Bahkan ketika kaki ini lepas dari tongkat setelah 4 bulan istirahat karena patah, gue langsung mutusin untuk cepet – cepet naik gunung lagi hehehehe, gue udah kangen banget masuk hutan. Dan jeng jeng, gue langsung agree untuk berpetualang ke “surganya pendaki” – Himalaya. Well oh well, keputusan yang aneh dan banyak dinyinyirin sama orang – orang, karena menurut mereka bagaimana mungkin dengan kaki yang masih dipasang pen dan sekrup ini bisa sampai d Himalaya – Everest Base Camp lagi, jalan ajah masih pincang. ah gue bilang.. “kucing mengeong, orang keren tetap berlalu”…

ebc

Ticket ke Nepal udah, booking trip ke trekking organizer udah, perlengkapan udah dan waktunya untuk latihan fisik buat persiapan kesana, maklum badan udah mulai kaku karena 4 bulan dianggurin :p and finally the day has come “Namaste” Welcome to Nepal! So glad to come back “home” gue emang udah jatuh cinta sama Nepal sejak tahun lalu pertama kali kesini, dan sekarang bisa balik lagi. Kalo tahun lalu gue ke Langtang Himal Region, kali ini perjalanan gue menuju “Sagarmatha Region” – Everest Base Camp tempat paling mainstream untuk para pendaki :p kali ini gue dan Bekeper Hedon reunion dan akan mendaki selama 12 hari menyusuri Everest Region

Everest Region - Tempat paling mainstream di Himalaya :p
Everest Region – Tempat paling mainstream di Himalaya :p

Sebelum terbang ke Lukla – starting point pendakian untuk Everest region, gue dan temen – temen sempetin untuk city tour ke tempat – tempat terkenal di Nepal. Ada Boudhanath, Bungamati Temple, Bakhtaphur dan lain – lain. Sekali lagi, walaupun udah pernah ke tempat – tempat ini, gue tetep gak bosen sama yang namanya Nepal. Well, honestly kalo untuk trafficnya dan bisingnya klakson mobil, disini JUARA deh, chaos abis, supir medan ajah mah kalah :)…

Boudhanath
Boudhanath

Sudah hampir 3 jam gue menunggu di Tribuvan International Airport untuk penerbangan ke Lukla, tapi entah dimana pesawat gue berada rimbanya belum keliatan juga. Udah bosen nunggu di airport yang super rame dan yeah masih chaos juga, akhirnya penerbangan Goma Air dipanggil juga. Sebuah Cessna Aircraft yang hanya memuat sekitar 16 orang mengantarkan gue dan rombongan terbang selama 35 menit dengan selamat sampai di Tenzing – Hillary Airport Lukla. Begitu pesawat mendarat semua orang tepuk tangan, you will never believe it that we’ve just landed safely in one of the most dangerous airport in the world. Gillaaaakkk!!! Itu landasan pacu Cuma secuil kaya lapangan parkir indomaret, dan ujungnya jurang cuy jadi kalau sang pilot lengah dan lupa ngerem yah dadahbyebye..

One of the most dangerous airport in the world - Tenzing - Hillary Airport - Lukla
One of the most dangerous airport in the world – Tenzing – Hillary Airport – Lukla

And The Trekking is Began…

Buat gue sepanjang mendaki ke Everest Base Camp ini semua hal mengesankan, porter yang super kuat dengan beban yang segede kulkas, binatang Yak dan Nak yang lalu lalang yang jadi transportasi warga Sherpa, pemandangan yang bikin mulut gue menganga karena keren banget, warga Sherpa yang selalu ramah, ah masih banyak lagi deh yang bikin gue kagum. Termasuk dengan tanjakan – tanjakan yang bikin kaki lemes dan bikin mewek, jembatan – jembatan tinggi yang bikin muka pucet, dan sampai gue nulis ini, masih kebayang jalur – jalur terjal dipinggiran jurang plus tanjakan yang ngalahin 7 bukit penyesalannya Gunung Rinjani – duh, sakitnya tuh di dieu tah!

IMG_0558_1

Tapi itulah yang gue bilang, semua berbanding sama.. penderitaan tanjakan yang gak ada abisnya itu berbanding dengan pemandangan yang luar biasa indahnya! Its worthy after all! Belum lagi pas sampai dijalur dimana semuanya sudah ditutupi es.. akh! Kesampean juga naik gunung es. Gue rasa banyak pendaki Indonesia yang mempunyai mimpi untuk mendaki gunung es, yah salah satunya gue. Gue mah ndeso, liat salju dan es segitu banyak bawaannya pengen buka “warung es teler” :)

main es... harusnya bawa sirop sama alpuket kesini.. :)
main es… harusnya bawa sirop sama alpuket kesini.. :)

Pendakian ditempuh dalam waktu 11 hari, 1 harinya stay di Lukla nunggu pesawat yang bikin deg-deg nyess ituh. Setiap hari kita mendaki ke dataran yang lebih tinggi dan ditempuh kurang lebih 5-7 jam tergantung kecepatan masing – masing pendaki. Yah gue mah udah pasti paling belakang, dengan kaki yang habis patah jelas makin memperlambat speed gue, tapi tenang, mental gak akan melemah #tssaaeellaahh. Pendakian ke Everest Base Camp gak pakai camping, walaupun bisa juga camping tapi jarang banget, semua pendaki akan tidur di lodge/hotel yang sudah di design semenarik mungkin oleh warga Sherpa. Bahkan disana ada fasilitas Café/Pub, Restaurant, Shopping Center, bahkan ada Karaoke segala. Seperti di Namche Bazzar salah satu Desa yang paling ramai di ketinggian 3.400mdpl.

Night at Namche Bazaar - Photo taken from my Hotel Room
Night at Namche Bazaar – Photo taken from my Hotel Room

 Everest View Point

Great Breakfast Ever in Everest View Point Hotel
Great Breakfast Ever in Everest View Point Hotel – Sarapan dengan sajian pemandangan Gunung Everest

Terharu sekaligus seneng banget pertama kalinya liat Everest dari dekat dan dengan mata kepala sendiri, maklum biasanya kan Cuma bisa liat di tivi atau internet eh sekarang bisa liat langsung, akh! Happy banget deh! Dari sudut sana juga berdiri Amadablam yang gagah dan jelas butuh keahlian khusus untuk mendaki kesana. Banyak banget deh pemandangan gunung – gunung kerennya, kalau gue sebutin satu – satu bisa gak selesai – selesai lu baca tulisan ini.

View from VIP Toilet – if you only knew what I mean :)

Mendaki ke Everest Base Camp termasuk katagori Strenuous, trek nya gue bilang sih gak sulit banget, walaupun beberapa part kebangetan bikin menderita hehehe, maksudnya tingkat kesulitan Everest Base Camp ini ada dibagian dimana pendaki diwajibkan tidur di ketinggian 5000mdpl dimana masalah pernafasan biasanya mulai muncul. Dari batas ketinggian 4000mdpl menuju 5000mdpl, pendaki biasanya mulai sulit bernafas, kemudian mulai susah tidur bahkan biasanya sesak datang pada saat lagi tidur. Gue pun ngerasain hal yang sama, itu termasuk normal namun jika berkepanjangan dan disertai batuk darah/mimisan, lebih baik di check laporkan ke guide karena itu termasuk gejala hape atau mungkin juga altitude sickness. Makanya dalam pendakian ini, aklimatisasi sangat dibutuhkan, dan satu lagi kuncinya biar gak kena altitude sickness, jalan lah selambat mungkin agar tubuh bisa beradaptasi dengan keadaan sekitar.

IMG_0597_1
Setiap lelah berjalan, selalu ada excuse untuk berhenti beristirahat :) baca : ambil photo :p

Mendaki Everest Base Camp diwajibkan pakai guide itu sih termasuk dalam peraturan pemerintah Nepal, ada juga yang gegayaan bawa barang sendiri hari pertama sih ok, hari ke dua yahhh ok, hari ke tiga udah melambaikan tangan akhirnya minta bawain porter juga.. gue lebih pilih semua di arrange sama trekking organizer yang udah berpengalaman silahkan buka disini Ace The Himalaya jadi gue gak perlu ribet – ribet ngurus ini itunya.

Untuk soal makan, gue gak ada masalah sih *karena gue bawa saos, sambel dari Jakarta hehehe.. makan diketinggian Sagarmatha region ini termasuk mahal, makin tinggi desanya makin mahal harga makanannya, bahkan gue ketemu harga Pringles Rp. 50.000 1 pack gituh :( makanya gue lebih memilih paket yang all inclusive makan, jadi gak keluar biaya lagi untuk makan. Total package yang gue beli sekitar USD 1500/pax include ticket pesawat dari Kathmandu ke Lukla PP. Semua makanan, guide, porter, perizinan, serta alat sudah termasuk dalam paket tersebut oiyah dapet bonus juga tidur di Kathmandu 4 malam di hotel bintang 3 berikut city tour. Oiyah harga ticket pesawat ke Nepal PP sekitar 7jutaan, dan jangan lupa siapin USD 40 juga buat bayar VOA (Visa On Arrival).. Udah kaya tourist gue hehehehe..

Himalaya…  All The Way…

IMG_0216_1
and all the way…

 Jalur pendakiannya kira – kira seperti ini, gue akan jelaskan detailnya nanti yah di tulisan berikutnya :)

Lukla 2804mdpl – Pakhding 2610mdpl – Trek to Namche Bazaar 3441mdpl kemudian kita stay lagi 1 hari untuk acclimatization day ke Everest View Point. Then Trek to Tengboche Monastery 3860mdpl Dingboche 4350mdpl – Chhukung valley 4710mdpl – Trek to Lobuche 4910mdpl – Trek to Everest Base Camp 5365mdpl then back to Gorak Shep, ini lodge terakhir sebelum Everest Base Camp, dulunya tempat ini juga dijadikan basecamp para pendaki untuk menuju Gunung Everest. Setelah dari Gorak Shep – then trek down to Periche (4200 meters) –  Namche Bazaar (3441 meters) – Lukla

I'm Abex, I'm Indonesian and I Reached Everest Base Camp :D
I’m Abex, I’m Indonesian and I Reached Everest Base Camp :D

Touch down Everest Base Camp!! What a great achievement in my life!! I made it… gila! Masih gak percaya bisa sampai sini, walaupn hidung berdarah, kedinginan, kaki lemes, tapi bener mental itu gak akan pernah melemah secapek apapun naik gunung, asal niat dan doa tetep jalan. Well perjalanan gue belum selesai dan belum dikatakan berhasil kalau gue belum turun dengan selamat :)

anak bebek goes to Everest BC
anak bebek goes to Everest BC

Masih ada sisa perjalanan 5 hari lagi untuk turun ke Lukla dan kembali ke Kathmandu. Setiap perjalanan turun menempuh waktu sekitar 8-10 jam, dan tetap harus stay overnight di Lodge.

Night at Periche
Night at Periche

And Finally! Semua tim sampai di Kathmandu dengan selamat, hanya satu orang wanita dari Canada yang harus di evakuasi dengan Helicopter terbang ke Kathmandu karena sakit. Mendaki Everest Base Camp bukan hal yang mudah, setiap tahunnya Gorak Shep menjadi saksi meninggalnya 6-7 orang yang tidak bisa bertahan karena altitude sickness. Fisik yang baik, asupan makan yang benar, dan asupan vitamin untuk jaga daya tahan tubuh sangat dibutuhkan disini, dan tentunya mental yang kuat seperti baja serta “partner trekking” yang baik juga sangat diperlukan dalam pendakian ini.

And all the joy surround me..
And all the joy surround me..

Buat gue, gue dapet banyak pelajaran lagi dari perjalanan Everest Base Camp ini, gue tau siapa yang benar – benar sahabat, gue dapet ilmu soal pendakian gunung es, teman perjalanan, pengalaman baru, dan yang jelas dapet photo baru buat di upload di Instagram dan Path! YEAY!  – ok, hiraukan bagian ini.

and this is for Indonesia
and this is for Indonesia

Akhirnya gue belajar satu hal lagi, mendaki gunung itu bukan soal pride, bukan soal kebanggaan bahwa “elu sudah mendaki gunung ini, itu, disana, disini, udah 10 kali ke semeru, 29 kali ke Rinjani, atau bahkan 100 kali ke Himalaya”, tapi mendaki gunung adalah soal bagaimana kita bisa menikmati hidup melalui alam, soal gimana bisa menaklukan rasa egois dari diri sendiri, soal empathy terhadap orang lain, soal menghargai pemberian, dan mendaki gunung adalah tentang “bagaimana menikmati setiap detik dalam perjalanan dan menikmati setiap saat dengan siapa elu berjalan :)”

Khumbu Ice Fall
Khumbu Ice Fall

Rasa lelah, akan terganti dengan semua pemandangan indah yang sudah disajikan oleh sang Kuasa, semua keluh kesah akan tergantikan dengan tawa dari teman perjalananmu, semua rasa sakit akan terganti dengan senyum bahagia ketika kamu bisa mencapai target mu dan bisa kembali ke tujuan dengan selamat.

Trust me, kenangan dengan sahabat atau siapapun dalam perjalanan, gak akan bisa diulang lagi dan setiap hal yang terjadi dalam perjalanan gak akan bisa ditukar dengan apapun.

So.. yakin capek naik gunung? :)
So.. yakin capek naik gunung? :)

So, gimana? Masih mau naik gunung? :)

~Abex~

Himalaya, 4-14 November 2014

Ps : tunggu catatan lengkap perjalanan gue di tulisan berikutnya yah :D

 Credit photo by Abex, Kinanthi and Billy Djokosetio

Gunung Api Purba – Ngelanggeran

Hell-O Jogja!

Puncak Gede - Gunung Api Purba
Puncak Gede – Gunung Api Purba

Ah ngomongin Jogja mah gak ada abisnya, gue selalu rindu sama Jogja dan gue selalu ingin balik lagi, gak pernah bosan.. walaupun Jogja sekarang udah rame dan sedikit macet tapi gue tetep suka sama Jogja. Berkali – kali ke Jogja selalu punya cerita baru, itu lah yang gue bilang tentang perjalanan “selalu ada hal baru yang elu akan temui setelah berjalan” walaupun seribu kali lu datang ke tempat yang sama pasti selalu ada cerita berbeda yang elu dapat. Contoh ajah kalau elu ke “WC” meskipun udah gak kehitung berapa kali, tapi liat selalu ada cerita baru didalamnya… contohnya yah mungkin kemarin “coklat kayu” hari ini “warnanya hijau stabilo”, besok “kuning jingga” hahahhaaha *silahkan ambil kantong kresek kalo mual :p” if you know what I mean :)))))

Anyway gue gak mau bahas apa yang sudah lu keluarkan di WC, gue juga bukan mau bahas betapa manisnya berada di kota Jogja itu. Gue mau berbagi pengalaman soal Gunung Api Purba Ngelanggeran, aduhhhh tuh gunung cantik banget deh… gue suka banget! Walaupun hawanya gunung tersebut panas karena vegetasinya bukan hutan tropis, tapi tetep bisa bikin badan seger lah walaupun badan berkeringet kepanasan. Gunung ini terletak di Patuk Gunung Kidul, dan masih banyak loh yang gak tau dimana dan gak pernah denger tentang Gunung Api Purba :p

IMG_3971

Jalan bebatuan yang sudah di paving, dibuat jalur tanpa mengurangi sisi adventurenya, kemudian shelter untuk istirahat yang juga sudah dibuat begitu nyaman, kalo gue gak lupa itu hasil dari CSR Mandiri, ah senangnya masih banyak orang yang peduli sama Gunung di Indonesia. Setiap beberapa meter dipasang sign board petunjuk jalan, kata – katanya ada yang bijak ada juga yang untuk penyemangat deh, lucu pokoknya. Memang bikin semangat!

IMG_3938
udah kaya Xena belum? :p
Celah Sempit Jalur Pendakian Gunung Api Purba
Celah Sempit Jalur Pendakian Gunung Api Purba

Ada jalur dimana gue harus pegangan tali tambang untuk mendakinya, yah ceritanya gaya – gaya pemanjat tebing gituh deh hehehee. Ada juga jalur yang lucu karena kita harus melewati celah yang sempit banget, kaya di goa gituh. Bagus lah pokoknya, jalurnya macem – macem. Tapi vegetasinya bukan hutan lebat yang adem gituh jadi memang berasa banget panas.

IMG_20140512_213417

Sampai diatas nanti akan ada pelataran terbuka yang bisa liat sudut lain kawasan Gunung Kidul, pemandangannya hijau keren banget. Tepat tengah hari gue sampai disitu, kebayang panasnya kaya apah. Tapi biarlah, seorang petualang tidak akan takut hitam bukan? *pake sunblock yang banyak biar terhindar dari sengatan UV yang bisa menyebabkan kanker kulit, ini penting* Sunblok gak bikin lu putih, tetep ajah bisa hitam juga, yang penting terbebas dari bahaya kanker kulit.

Salah Satu Jalur Pendakian Gunung Api Purba
Salah Satu Jalur Pendakian Gunung Api Purba

Gue ngelanjutin perjalanan lagi menuju puncak, ada jalur tangga yang dibuat melewati pohon jadi bener – bener mirip rumah pohon. Dan finally!! Gue sampe juga dong di Puncak tengah hari bolong, puncak Gunung Gede (nama puncak Gunung Api Purba 700mdpl). Tapi pemandangannya kereeeeeeeeeeeeeeeeeennn bangeeetttt!!! Di depan gue ada Gunung Jari persis kaya pegunungan atau tebing bebatuan yang ada di film kera sakti hehehehe.

Puncak Gede
Puncak Gede – Gunung Api Purba
Ciiiyeeehh ciiyyeehh yang Pacaran di Puncak gunung ciyeeehh :p
Ciiiyeeehh ciiyyeehh yang Pacaran di Puncak gunung ciyeeehh :p

*fotoin orang yang pacaran sambil ngelus – ngelus dada – mupeng… ciiyyeeehhh :p

Di puncak banyak juga orang pacaran, sepanjang jalan sih banyak yang pacaran, dan mereka naik ke gunung api purba ini tidak memakai alas kaki yang safety, banyak dari mereka Cuma pakai sendal jepit, bahkan cewe – cewenya naik pakai selop emak – emak, juga wedges yang tinggi yang bisa nimpuk “anjing” langsung celeng :(

Puncak Gede - Gunung Api Purba

IMG_3979

Padahal jalur Gunung Api Purba itu gue bilang rawan bahaya loh, karena bebatuan dan bisa memiliki resiko cidera angkel atau terkilir. Yah sebagian dari mereka menyepelekan jalurnya karena memang Gunung Api Purba sudah dianggap seperti taman rekreasi biasa. Buat gue sih, yah namanya tetep gunung, mendaki gunung tetep ada resikonya.

Tiket masuk untuk Gunung Api Purba dipatok sekitar Rp. 7.000 kalau naik siang hari, kalau malam hari jadi Rp. 9.000. Banyak loh yang naik malam hari karena mau menikmati sunrise. Bisa juga sih nikmatin sunset, tapi sayang gue gak dapet dua – duanya yailaahh secara gue naik tengah hari bolong :p

Gunung Api Purba ini bentuknya seperti bongkahan batu, makanya yang tadi gue bilang jalurnya kebanyakan batu, bahkan pelataran puncaknya juga bebatuan. Bebatuan jenis karst ini terbentuk jutaan yang lalu sejenis dengan material vulkanik yang sudah cukup tua. Gunung ini dijadikan Kawasan Ekowisata dan dikelola oleh warga Ngelanggeran. Banyak atraksi wisata yang disajikan di Ngelanggeran, dari mulai kegiatan outdoor, bersepeda, flying fox, sampai menanam padi juga ada.

Sejarah gunung Api Purba masih mempengaruhi warga Ngelanggeran sehingga masih percaya hal mistik tentang nenek moyang dan leluhur yang menjadikan Gunung Api Purba ini. Well, itulah Indonesia kaya akan sejarah, dan setiap gunung selalu mempunyai cerita atau hal yang berkaitan dengan adat, budaya dan mistik. I really Love my Indonesia :D

So, kalau kalian ke Jogja coba deh sempetin mampir ke Gunung Kidul dan menikmati indahnya Gunung Api Purba Ngelanggeran. Cuma 1 – 1,5 jam mendaki sampai puncak :D tapi harus dengan prosedur safety yah dan jangan pernah meremehkan :)

Mari Lanjutkan perjalanan lagi keliling Jogja ::D
Mari Lanjutkan perjalanan lagi keliling Jogja ::D

Happy Safe Trekking!

~Abex~

Photo by Abex, Billy Djokosetio, Obe, and Dede

Gunung Pulosari : Kecil – Kecil Cabe Rawit

Hell-O Banten!

Gunung Pulosari - Banten
Gunung Pulosari – Banten

Kecil – kecil cabe rawit mungkin adalah kata – kata yang pas dan pantas disandang oleh Gunung Pulosari ini. Bagaimana gak? Gunung berapi aktif dengan tinggi 1.346 mdpl ini adalah gunung yang tidak terlalu tinggi di kawasan Banten namun mempunyai jalur yang lebih pedes dari cabe rawit deh.

Kali ini gue dapet kesempatan untuk explore Banten, dan ternyata masih banyak orang yang “ngaku” Pencinta Alam, traveler sejati, tapi sama sekali gak tahu dimana letak Gunung Pulosari, bahkan mereka gak tahu kalau di Banten menyimpan banyak keindahan bukan hanya Baduy atau pantainya. Tapi juga gunungnya, bukan hanya Pulosari, tapi ada juga si gagah perkasa Gunung Karang.

Seperti biasa perjalanan kali ini mungkin namanya “Road Trip to Banten” ngelilingin Banten bawa mobil dan liat banyak hal yang berbeda dari keramaian kota. Sehabis dari Baduy, gue, Cemoonnkk, Dede dan Roy ngelanjutin perjalanan gue ke Gunung Pulosari, disusul dengan Obe yang gak mau kalah nyusul ke Banten dari Jakarta, tapi kali ini gue memilih untuk tek – tok (aduh gue gak suka kata – kata ini, kesannya gue udah paling jago dna cepet naik gunung, padahal mah aduuuhhhh…saya mah masih belajar :))

Pemandangan Sepanjang Road Trip Banten
Pemandangan Sepanjang Road Trip Banten

Day Trip Trekking Pulosari dimulai dari Pandegelang ada satu tempat namanya Mengger kalau gak salah, dari situ ada pertigaan. Gue sih gak hapal kalo naik angkot, gak hapal juga nama tempatnya dan yang jelas saat itu gue ditemenin sama orang Banten namanya Apet dia berdua sama temennya yang gayanya necis banget pakai sepatu converse persis perti orang mau piknik, tapi baguslah dia masih pake sepatu daripada mereka yang pakai sandal. Gue juga ditemenin oleh guide empat orang salah satu diantara mereka adalah orang dari Dinas Pariwisata Banten.

Ada satu warung “emak” begitu gue memanggilnya, warung kecil yang terletak gak jauh dari pertigaan, yang jelas warung itu adalah tempat singgah para pendaki yang mau ke Pulosari. Emak ini sudah tua namun masih aktif banget, dan beliau sangat baik. Cemoonnkk menitipkan mobilnya di parkiran warung emak dan bergegas kami semua menuju Pos Pendakian Gunung Pulosari. Sebuah Pos yang dikelola oleh warga setempat, lumayan banyak motor yang parkir disitu padahal itu bukan hari libur. Kawasan Pulosari ini dikelola oleh Perhutani dan warga setempat.

Jalan Menuju Pulosari
Jalan Menuju Pulosari

Selesai berdoa, gue dan temen – temen memulai pendakian target kami sih kalau bisa yah muncak namun kembali lagi kita liat kondisi alam. Jalur pendakian Pulosari sudah tertata rapi dikelilingi banyak pohon kopi dari perkebunan warga. Setelah jalan kurang lebih satu jam, tibalah di Pos Registrasi lagi, dimana setiap pendaki akan dikenakan biaya seiklasnya untuk menjaga kebersihan Gunung Pulosari. Tapi buat kalian yang mau ngecamp atau bermalam di Pulosari Rp. 5.000 –  10.000 per kepala.

Curug Putri
Curug Putri

Istirahat sejenak, dan disudut jalan sudah ada curug Putri dan saat itu lagi ramai pengunjung yang lagi pada mandi ah itu pemandangan yang bodoh! Jelas bodoh, mereka mandi dan keramas pakai sabun & sampo jelas itu salah, karena sebagian aliran air dari curug putri masih digunakan warga untuk kebutuhan hidup sehari – hari. Selain itu sih pemakaian bahan zat kimia dari sampo dan sabun tersebut bisa merusak ekosistem di Pulosari.

Gue dan temen – temen mutusin untuk lanjut naik daripada ngeliatin pemandangan orang mandi dan pacaran. Dan mulai terlihat jalur asli pendakian gunung Pulosari, welcome to the jungle! Gilaaa cyiiinnn itu tanjakan tinggi bener, tapi seru! Cuma harus hati – hati dengan bebatuan yang sudah dipenuhi lumut tentunya sangat licin.

Pulosari - Abex

Jalur Pulosari
Jalur Pulosari

Jalur dilanjutkan dengan tanah yang becek dan licin banget, perlahan dan harus tetap focus. Terkadang jalur yang ditempuh berupa tanah lumpur, kemudian akar pohon yang melintang, dan tentunya Pulosari dipenuhi hutan tropis yang rindang tapi entah kenapa udara hari itu begitu panas. Dari kejauhan disela sela dedaunan terlihat Gunung Karang, salah satu gunung yang cukup sulit juga di Banten. Pulosari masih mempunyai sumber air tapi hanya di curug Putri karena dikawasan Kawah Sumber air sudah tercampur dengan belerang.

DSC_0246

Misty - Pulosari
Misty – Pulosari

Setelah 2 jam lebih berjalan akhirnya sampai juga di Kawah Ratu Gunung Pulosari, tapi sayang oh sayang kawah Pulosari terturup kabut tebal dan hujan dong. Gue dan temen – temen pun mutusin untuk gak jadi muncak Pulosari. Seperti yang gue selalu bilang bahwa puncak bukanlah segalanya tapi pulang dengan selamatlah yang utama. Kenapa gitu? Karena saat kabut jalur Pulosari untuk muncak cukup berbahaya, terlalu beresiko buat semua pendaki. Jalur terjal dan licin disertai pemandangan yang tertutup kabut tebal sangat beresiko.

Kawah Ratu - Pulosari
Kawah Ratu – Pulosari
Billy in Action
Billy in Action
Aktifitas Belerang di Kawah Pulosari
Aktifitas Belerang di Kawah Pulosari
Lunch Break!
Lunch Break!

Setelah makan siang, akhirnya gue dan temen – temen mutusin untuk turun dan jelas perjalanan menuruni tanjakan terjal tentu saja adalah hal terseru sekaligus menambah penderitaan dengkul gue :p terpelanting, kepeleset berkali – kali mah udah biasa. Tapi seru banget!

Abex in action :p
Abex in action :p

 

Gue dan temen – temen mutusin untuk duduk – duduk cantik di Curug Putri sambil istirahat. Minum air yang seger, nikmatin pemandangan Pulosari, dan deket – deket air terjun tuh rasanya adeeemmmm banget sama deh rasanya kalo aku lagi deket sama kamuuuhhh… iiyyaahh kamuuuhh #eeeeaaa

Perjalanan Pulosari sudah usai, gue balik ke Carita dengan niat mau camping di Pantai tapi apa daya pas lagi barbeque tiba – tiba hujan, angin petir datang. Untung ikan gue gak kehujanan, kalo kehujanan bisa – bisa dia balik lagi berenang ke laut (sumpah ini tulisan terjayus yang gue tulis)..

Tapi yang jelas BBQ malam itu nikmat banget, senikmat harga Ikan, cumi dan teman – temannya yang dijual di pasar dengan harga kaya main tembak – tembakan. Malam segera larut, hujan gak berhenti, gak mungkin tidur di mobil 5 orang gitu, sementara tenda sudah basah kuyub kebanjiran. Akhirnya gue mutusin untuk sewa Vila.. yaahh begini deh ngaku bekpeker tapi lebih seneng jadi “bekeper”

*gue masih mikirin dimana gue simpen foto – foto BBQ yang gagal tapi jadi makan malam yg ruarrr biasa dengan rasa plus plus :p*

Selamat malam Banten.. selamat tidur semesta.. besok lanjut lagi keliling Bantennya :)

Photo by Abex – Billy Djokosetio – Roy

~Abex~

Gunung Sumbing : Si Keren Dari Jawa Tengah

Hell-O Wonosobo!

Gunung Sumbing
Gunung Sumbing

Hey kalian, dapet salam dari Gunung Sumbing! Kira – kira gituh deh pemandangan pertama yang gue liat dari depan hotel gue. Pertama kali gue liat tempat ini gue emang langsung jatuh cinta.. gimana gak? Karena pemandangan yang disajikan bener – bener indah banget deh, perkebunan teh yang terhampar luas disepanjang jalan, di depan hotel ada pemandangan Gunung Sumbing yang berdiri gagah dan dadah dadah ke gue sambil manggil – manggil “kapan naikin aku??” sementara dibelakang hotel Sang Sindoro tak kalah indahnya berdiri keceh dan gak mau kalah sambil kedip – kedip manggil – manggil gue untuk segera mendakinya…

Sementara gue… “eehh buusseettt… dia kata gampang kali naik dua gunung sekalian dalam waktu tiga hari” *ucap gue dalam hati sambil ngelus – ngelus kaki…

Sindoro
Pemandangan Sindoro Dari Depan Hotel Kledung – Lukisan Tuhan memang Keren!!

Kira – kira itulah pemandangan yang bisa gue ceritain dari Hotel Kledung Pass, ahk! Hotel ini keren banget, letaknya strategis banget. Kamarnya sederhana yang jelas ada air panasnya ini yang paling penting karena udara di Kledung sangat dingin. Gue sih seneng banget disini, pemandangan masih asri, udaranya seger banget, belum tercemar dan gak terlalu ramai. Di hotel ini juga ada restaurant yang menyediakan makanan yang banyak banget ragamnya dan tentunya dengan rasa yang ennnaaakkk banget… no wonder kalau Restaurant ini suka dipenuhi dengan bus pariwisata yang berhenti senjenak untuk istirahat, yah istilahnya kaya rest area deh.

Pemandangan Gunung Sumbing Dari Teras Kamar Hotel Kledung
Pemandangan Gunung Sumbing Dari Teras Kamar Hotel Kledung

Ini kali pertama gue naik ke Gunung Sumbing, gue dateng dari Purwokerto dan backpackeran dong ngerasain ngeteng pake mobil bak, pindah ganti – ganti bus bawa – bawa barang banyak udah kaya TKI di usir sama majikannya hehhehee.. :D

Today it’s the day! Lets Go Hike! Packing sudah siap, mental udah siap yuukk capcuuusss.. Gue dan temen – temen bergegas menuju Base Camp Pendakian Gunung Sumbing Via Garung. Ada yang beda kali ini, pendakian kali ini gue harus nanjak tanpa si Cemoonnkkk.. selebihnya tetep ada Bekeper, ada Obe, Dede, Mas Kemal, Yosua, Mas Tri, dan Ucup mereka adalah temen – temen gue dari Mapatra Purwokerto. Mereka orang yang baik – baik banget! Tapi sayang masih jomblo #Loh #ppsssttt

Base Camp Pendakian Sumbing via Garung
Base Camp Pendakian Sumbing via Garung

Karena gue ngejar waktu, gue memutuskan untuk naik Ojek sampai dibatas vegetasi rumah warga. Maklum, gue dan temen – temen masih harus save energy untuk naik beberapa gunung lagi, memang perjalanan kali ini gue dan temen – temen mau marathon I mean bukan lari marathon tapi estafet dari satu gunung ke gunung lainnya. Bukan gue sih, gue mah apalah.. mana tahan naik gunung gak berhenti – henti gituh :p

Setelah mengerikan lewat jalur bebatuan, kenapa mengerikan? Karena.. ah gilak deh tukang ojek di Garung, bunyi motor nyaring dan dengan motor yang terlihat kering kerontang itu mereka bisa nanjak lewatin tanjakan tinggi walopun pake ngeden – ngeden sih. Si Tukang Ojek bilang, “kalo takut peluk saya ajah mbak erat – erat” – dia berasa balon banget mau dipegang erat – erat #eeeeaaaa yah itung – itung hari itu gue bikin orang bahagia deh dengan melukin dari belakang… hiikkss :(

Sang Sindoro Kedip - Kedip Manggil ngajak mampir.. :D
Sang Sindoro Kedip – Kedip Manggil ngajak mampir.. :D

Ternyata gue gak beruntung, pelukan gue kepada tukang ojek malah membuat motornya tersebut mati ditanjakan dan berhenti. Gue stuck dong.. tapi suer bukan karena berat badan gue  tapi mungkin karena tukang ojeknya pengen biar lebih lama dipeluknya sama gue kali… #eeeeeaaaa *kemudian disumpel daun tehh.. Akhirnya gue ngelanjutin perjalanan gue dengan jalan kaki, temen – temen lain lewat sambil dadah – dadah hiikkss.. dan tukang ojek lain ternyata iba sama gue dan akhirnya jemput gue. Pemandangan sekitar gue bilang cakep banget, kanan kiri banyak perkebunan warga, vegetasi kebun teh disepanjang jalan menjadi cirri khas Garung dan Kledung. Belum lagi sepanjang jalan Sang Sindoro dari kejauhan masih kedip – kedip menanti kedatangan gue..

IMG_3423

Jalur Pendakian Sumbing
Jalur Pendakian Sumbing

Well, stop berkhayal welcome to the real track! Jalur pendakian Sumbing telah dibuka, selamat menikmati terjalnya jalur Sumbing, licinnya jalur tanah, dan segala tanjakan tinggi yang bikin mulut nganga..mangap dan leher mendongak lebih lama. Nah Loh! The Trekking is begin guys, be prepare and stay safe. Yah maklum, gue dianggap emaknya anak – anak jadi harus lebih bawel sama mereka. Satu persatu tanjakan mulai menyambut gue dan temen – temen, tapi entah kenapa gue seneng liat jalur di Sumbing karena semua tertata rapih, sudah ada pavingan walaupun masih tanah, kemudian tanah lapan untuk campsite yang sudah dirapihkan, yah walaupun tidak mengurangi penderitaan saat di tanjakan yang gak ada abisnya.

Jalur Pendakian Sumbing
Jalur Pendakian Sumbing
Tanjakan Cantik yang Licin
Tanjakan Cantik yang Licin

Pos I Malim, Pos II Genus, Pos III Seduplak Roto udah dilewatin, entah kapan sampainya. Gue ditemani oleh satu porter dan guide yang mulai bikin gue kesel karena selalu PHP in gue bilang udah sampe ternyata masih banyak tanjakan yang menanti “sambil ketawa – ketawa dia bilang sabar yah mbak.. belum sampe yah mbak? Hihihiihih” gue tersenyum terhibur melihat ulahnya. Tepat pukul 12.30 siang gue dan temen – temen akhirnya sampai di Pos Pestan 2.437mdpl, tadinya kami mau ngecamp di watu kotak, tapi gue mutusin untuk di Pestan ajah. Pemandangan dari Pestan ini udah keren banget, masih berdiri keceh Gunung Sindoro tepat didepan campsite gue. Sebuah tanah lapang yang terbuka dan tentunya dengan angin yang super kenceng dan dingin yah itulah ciri – ciri Pos Pestan. Bahkan 5-6 kali gue dan temen – temen harus betulin flysheet yang terbang – terbang mulu..

Pos Pestan - Pasar Setan Gunung Sumbing
Pos Pestan – Pasar Setan Gunung Sumbing

Gunung Sumbing merupakan gunung tertinggi kedua setelah Gunung Slamet. Gunung dengan ketinggian 3.371mdpl ini gue bilang salah satu gunung yang tergolong sulit, dan ini baru sampai Pos Pestan sementara di belakang campsite gue, sudah menanti puluhan atau mungkin ratusan tanjakan lagi untuk menuju puncak. Gillaaaa cuuyyy gak ada bonusnya…

My Great Team :)
My Great Team :)

Dan hujan pun menemani hari kami saat itu, kabut yang begitu tebal menutup seluruh pemandangan saat itu. Suhu diluar tenda pun langsung turun drastis dan dingin banget. Gue lebih milih istirahat untuk persiapan summit attack nanti. Setelah masak makan malam ngobrol sebentar dan gue langsung bobo bobo cantik sambil menunggu waktu summit. Sayang, malam itu gue gak bisa tidur karena angin begitu keceng, bunyinya berisik kaya pasar malam, dan malam itu sangat amat dingin. Jadi pastikan lagi kalo elu elu pada mau ke Gunung Sumbing, bawalah perlengkapan trekking yang lengkap khususnya pakaian hangat.

IMG_3448

Wonosobo Malam Hari
Wonosobo Malam Hari

Tepat pukul 2 gue sudah bangun untuk nyiapin minuman hangat dan cemilan untuk perjalanan summit attack. Dan waktunya lanjut perjalanan lagi pagi – pagi buta. Beginilah para penikmat ketinggian, mereka bangun tengah malam untuk melihat bintang, dan kembali menyusuri jalur untuk menikmati sunrise dari ketinggian. Jalur yang ditempuh ternyata semakin berat, tanjakan yang nonstop harus kita lewati, nafas tersenggal – senggal semua hilang karena takjub liat kerlap kerlip lampu di Wonosobo, indah banget.. Wonosobo terlihat damai dari ketinggian. Terlebih ketika sang surya mulai muncul perlahan, cahanya mulai menyinari Gunung Sindoro.

Vegetasi jalur ke puncak masih sama bukan hutan rimba yang lebat, hanya bebatuan dan pohonan kecil yang ada. Kita ngelewati Pos Watu Kotak, tebing terjal sampai akhirnya tiba di Puncak.

IMG_20140825_151642

Gak banyak kata – kata yang bisa diucapkan selain bersyukur bisa sampai di Puncak menikmati semua nikmat Tuhan dan keindahan alam yang gak ada tandingannya. Matahari Sumbing pagi itu membuat pemandangan alam ini jadi begitu “andra and the backbone” alias SEMPURNA!

Sunrise yang Sempurna
Sunrise yang Sempurna

IMG_3488

Keren banget deh.. sepadan dengan jalurnya yang gak ada ampun. Kawah Sumbing masih aktif terlihat aktifitas sulfur dari bawah sana. Dinding kaldera Sumbing berdiri kokoh mengitari kawah, makin terlihat majestic ketika kabut perlahan mulai menyelimutinya. Sang Sindoro berdiri tepat dihadapan gue seraya menyapa “selamat pagi, kapan mampir?” #eeehh, sementara Merapi yang mengeluarkan asap, Merbabu, Prau dan Slamet terlihat dari kejauhan gak mau kalah dadah – dadah lembut menyapa “Hae…” *#@$@#*$&@# hiraukan bagian itu.

IMG_3511
Kawah Gunung Sumbing

IMG_20140825_151718

IMG_20140521_110811

IMG_20140515_161354

Rasa bahagia hari itu begitu luar biasa sempurna, namun tiba – tiba terbayang jalur turun dari puncak Sumbing seraya berbisik “jangan seneng dulu luh, masih ada jalur turun pulang yang jauh lebih berat yang bisa bikin dengkul oplok – oplok” ~ haduuuhhh… rasanya gak mau turun kalau ngebayangin dengkul racing gue somplak. Karena memang buat gue jalur turun itu lebih berat daripada nanjak. Dan tibalah waktunya untuk menikmati jalur turun pendakian Gunung Sumbing. Selamat yah bex!!

IMG_4619
Campsite nya masih jauh :(

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Hadiah dari Sumbing, gue jatoh kepleset ala Supermen dan mendarat dengan bebasnya ditanah dan dapet sambutan dengan ketawa girang si Mas Kemal dan Obe. Itulah temen seperjuangan mereka akan ketawain lu sekenceng mungkin baru nolongin lu yang jatoh :)

Teman – Teman Gue yang super Keceh dan Kuat :D

IMG_3531

IMG_3485

Terimakasih Tuhan, terimakasih semesta Pendakian Sumbing ditutup dengan segala rasa syukur karena bisa sampai kembali di Hotel dengan selamat. Dan malamnya Gunung Sindoro pun sudah menanti, tapi gue lebih memilih untuk nunggu di Hotel karena masih harus mempersiapkan untuk pendakian yang lain.

Ah menyenangkan pekerjaan jalan – jalan ini. Waktunya leyeh – leyeh di Kledung Pass Hotel..

Pese gue : Kalau ke Sumbing, siapin fisik dan mental yang berlapis lapir yah begitu juga dengan perlengkapan trekking yang safety.

~abex~

Photo by Abex – Obe – Dede – Mas Kemal

Gunung Galunggung – Si Gagah Dari Tasik

Hell-O Tasikmalaya!

Pintu Masuk Kawasan Wisata Gunung Galunggung
Pintu Masuk Kawasan Wisata Gunung Galunggung

Ada apa sih di Tasik? Gue bilang sih ada banyak!! Banyak yang bisa didatengin.. salah satunya yang akan gue certain adalah Gunung Galunggung. Kenapa Gunung Galunggung? Banyak orang melupakan wisata alam yang mempunyai cerita bersejarah ini. Mungkin karena gunung yang sudah berubah menjadi taman wisata dengan jalur trekking berupa tangga jadi beberapa orang menganggap bahwa Galunggung adalah tempat wisata/tempat main bukan tempat trekking atau tempat camping.

Galunggung

Padahal menurut gue Gunung Galunggung tuh punya pemandangan yang tssaaakkkeeepppss banget. Gue sama temen – temen Bekeper menjadikan Galunggung sebagai salah satu tujuan “west Java road trip” karena menurut gue Gunung Galunggung itu menarik banget untuk di explore lebih jauh.

Tinggi Galunggung sendiri adalah 2.167 meter diatas permukaan laut, letaknya 17km dari Tasikmalaya. Gue bilang sih akses menuju Galunggung tidak terlalu ribet kok dan pemandangan sepanjang jalan tuuhhh indahhh banget! Entah kenapa kalau yang hijau – hujau kaya liat sawah, sungai itu senang banget feels like home >> yaahh namanya juga anak bebek kan? :p

Letusan Gunung Galunggung itu tercatat dalam sejarah loh. Letusan tahun 1982 bulan May dan berakhir di 1983, selama 9 bulan bulan Galunggung bergemuruh. Kejadian itu tentu saja menjadi catatan sejarah buat Indonesia terutama warga Tasikmalaya. 22 desa bahkan ditinggalkan karena debu yang bertaburan dengan waktu yang cukup lama. Bahkan Om Iwan Fals sampai bikin lagu tentang Galunggung, ini cuplikan liriknya :

Oh Tuhan, Apakah kau dengar?..Jerit umatmu..Diselah tebalnya debu
Oh Tuhan, Adakah kau murung?Melihat beribu wajah berkabung.. Disisa gelegar Galunggung
Oh Tuhan, Tamatkan saja.. Cerita pembantaian orang desa..Yang jelas hidup tak manja
Oh Tuhan, Katanya engkau maha bijaksana..Tolong Galunggung pindahkan ke kota..Dimana tempat segala macam dosa

Letusan Galunggung memang cukup hebat, tapi gak banyak orang tau. Om gue pernah cerita saat beliau lagi trekking ke Gunung Gede, tiba – tiba beliau dengar dentuman keras dan seketika Jawa Barat dipenuhi awan hitam selama beberapa hari. Wuuuiiihh kaya film – film star wars yaahh atau Armagedon, tapi gue yakin kalau gue udah ada di tahun itu, gue pasti juga udah ketakutan liat kejadian kaya gituh.

IMG_0060

Well, ini bukan pertama kali gue ke Gunung Galunggung, tapi entah kenapa gue gak pernah bosan, pokoknya kalau yang berbau alam gue selalu gak bosan deh :D Gunung Galunggung dikelola oleh Perhutani waktu gue kesana tiket masuknya per orang Rp. 3000 dan untuk mobil sekitar Rp. 20.000. Abis sarapan iseng di warung yang ada dibawah kaki gunung Galunggung ini gue dan temen – temen segera memulai pendakian. Oiyah temen – temen gue tuh tergila – gila sama bakwan yang dijual diwarung situ, ini sih gak penting tapi kalian harus tau bahwa dikaki tangga Galunggung banyak banget warung yang jual cemilan cepuluh cebelas.. Begitupun ketika sampai di bibir kawah diatas, banyak banget warung makanan. Tapi warung – warung tersebut hanya buka pada saat week end ajah, kalo hari biasa Cuma sedikit yang buka.

Warung disekitar Galunggung
Warung disekitar Galunggung
Selamat Menikmati 620 Anak Tangga :)
Selamat Menikmati 620 Anak Tangga :)

Pas udah siap, gue mulai nelen ludah lagi.. senyam senyum liat anak tangga yang berjumlah 620 anak tangga terebut. Gilaaakkk tangga ini lebih banyak dibandingkan yang di Bromo, yah begitulah naik gunung “kalau mau liat keindahan yang luar biasa dari atas sana, penderitaan dan jalan yang dilalui juga sebanding :p”

Rani mulai berlari menyusuri tangga, Obe mulai menapaki satu persatu anak tangga dengan nafas yang mulai tersenggal – senggal.. sementara gue dan Cemmoonnkk jalan begitu pelaaaaaaaaaaaaaannn nyurusuin satu – per satu anak tangga, dengan berdalih “ambil photo” gue stay cool bergaya seolah olah gak cape, padahal nafas gue udah diujung.. nafas senin – kamis ahahaha.. seketika Obe ketawain gue karena muka gue mulai merah dengan ketahuan nafas lagi mau putus :p

Nafas hampir putus.. dan akhirnya berhasil lewat 620 anak tangga
Nafas hampir putus.. dan akhirnya berhasil lewat 620 anak tangga

Yahhh gituh deh naik gunung bareng Bekeper tuh seru, banyak becanda.. sampe – sampe gak berasa kalau kita sudah memasuki anak tangga terakhir… wait??? Wait?? APAAAAA??? GAK BERASA???? GAK BERASA DARI HONGKONG NAFAS GUE UDAH KAYA IKAN MASKOKI DITARO DITANAH GINI.. :))))

Pemandangan dari Galunggung
Pemandangan dari Galunggung
IMG_0030 (2)
Bekeper in Mt. Galunggung

Tiba dibibir kawah Galunggung kami semua disajikan dengan pemandangan hijau yang bagus dan masih asri banget. Kota Tasikmalaya terlihat damai dari atas Galunggung. Pendakian pun harus berhenti disitu karena memang jalur gunung Galunggung untuk masuk ke puncak atau ke hutannya tidak pernah dibuka, yah infonya sih pernah ada beberapa mahasiswa dan orang – orang yang mencoba untuk mencari jalur dna mendaki ke puncak Galunggung tapi sayang mereka hilang gak pernah ditemukan. Vegetasi Galunggung memang cukup padat banget, gak ada terlihat jalur sama sekali. Bahkan tidak terlihat puncak Galunggung yang mana. Rata – rata wisatawan yang berkunjung kesini hanya ingin menikmati kawah yang sudah berubah menjadi danau berwarna hijau tersebut.

IMG_3650
Kawah Galunggung

???????????????????????????????

Sebenernya bisa turun ke Danau, tapi tidak dianjurkan walaupun masih banyak orang yang camping di bibir danau tersebut. Udah puas foto – foto, gue ngajakin temen – temen untuk melempar batu ke danau/kawah tersebut konon katanya sejauh apapun kita lempar batu ke kawah/danau tersebut, batu tersebut tidak akan sampai kebawah/permukaan danau. Menarik bukan? Gue dan temen – temen coba berkali – kali dan hasilnya pun sama. Batunya entah hilang kemana.. ahahahhaa what a magic right?

Itulah sebabnya masyarakat sekitar kaki gunung Galunggung masih percaya tentang hal mistik dan tentang “kehidupan lain” di Gunung Galunggung. Well, if you know what I mean :)

Oiyah dikaki gunung Galunggung juga menyajikan banyak wisata cipanas atau pemandian air panas yang berasal dari mata air pegunungan asli. Tapi inget makin rendah ambil kolam pemandiannya, makin dingin juga airnya dan makin banyak juga “jejak – jejak” bekas orang lainnya hahahhahaa.. :p ppppssssttt

Dan satu lagi yang harus disiapkan untuk mendaki gunung Galunggung adalah “Jangan lupa persiapkan mental untuk nurunin 620 anak tangga lagi untuk pulang” perjalanan belum selesai.. hiikkss :(

Gue berharap ada flying fox yang bisa langsung naik dari atas dan langsung sampe ke bawah dengan bantuan flying fox..

~abex~

All photo belong to : Abex & Billy Djokosetio

Gunung Prau : Kalau gak Indah, yah Indah Banget!!

Hell-O Dieng!

IMG_20140515_161146

Bagian ini paling gue suka, entah kenapa pertaman kali naik gunung ini terus langsung jatuh cinta! Mereka menyebutnya Prau (perahu) mungkin karena bentuknya yang seperti Perahu. Gunung yang berada di dataran tinggi Dieng ini memang sudah makin terkenal, jelas saja karena banyak pendaki yang berdatangan dan tentunya karena pemandangannya yang memang indah banget. Gak akan nyesel deh kalau nanjak kesana, walaupun capek tapi pemandangan yang disajikan bener – bener sepadan dengan penderitaan pendakian lo hehehe..

prau
Bukit Teletubies – Gunung Prau

Gunung yang lagi jadi tenar ini mempunyai tinggi 2.565 mdpl, dan gunung Prau merupakan gunung yang mempunyai puncak terluas diantara gunung – gunung di Indonesia ini. Gunung ini mempunyai beberapa jalur pendakian, diantaranya Via Desa Dieng, Via Patak Banteng, atau katanya bisa juga via Ungaran.

prau
Dataran Tinggi Dieng

Sebelum mulai baca ini, lu harus tonton channel ini dulu buat teaser gunung Prau – coba klik dulu link ini biar tau gimana Indahnya Gunung Prau :D The Beauty Of Mt. Prau

Gue yang lagi nginep di Dieng tentunya gak akan lewatin kesempatan untuk mendaki gunung ini, dan pagi itu cuaca Dieng tidak bersahabat, seharian hujan. Jadilah waktu pendakian gue mundur sampai jam 3 sore. Hujan pun berhenti, hanya sisa gerimis mengundang yang bikin udara jadi makin seger sore itu. Ah! I miss the sunlight! Gue dan temen – temen sepakat untuk melanjutkan pendakian sekitar pukul 3 sore itu. Jalanan yang becek dan licin gak bikin gue dan temen – temen nyerah walaupun udah kepleset berkali – kali.. ahahaha ini sih sudah biasyaaahhh..

IMG_3755
Sebelum mulai nanjak, ACTION! :D
IMG_3763
Pintu Masuk Gunung Prau

Bermodalkan Peta coretan dari Mas Dwi, gue mendaki lewat jalur desa Dieng, lewatin kuburan, lewatin perkebunan warga, ah jalurnya enak deh.. sampai tiba dimana kita memasuki pintu gerbang Prau eng ing eng..  perhatian perhatian, Pintu pendakian Prau telah dibuka, mamam noh jalur nanjak dan licin :p *ngelus – ngelus dengkul*

prau
Pos Tower

Gak kehitung udah berapa kali kepeleset tapi gak bikin gue kapok, show must go on right?! Oiyah kali ini gue jalan bareng Bekeper, ada Cemoonnkk as usual, ada Obe sama si Dede, seperti biasa kali ini gue jadi yang paling ganteng sendiri XD Pendakian kali ini fun banget, jadi gak berasa capek walaupun ngelewatin jajaran bukit yang “PHP” karena gak sampe – sampe dan akhirnya gue dan tim sampe juga di Pos Tower. Dimana disitu suasananya mistis banget, ada pos untuk kontrol tower, tower dengan kabel seliweran, diselimuti kabut, duh makin bikin merinding deh.

IMG_20140901_195907

IMG_20140901_195805
Sunset dari Prau
IMG_20140514_023845
Pemandangan yang jarang terjadi.. Pelangi pas sunset.. :D

Akhirnya gue dan tim lanjut jalan lagi dan kali ini gue disuguhkan oleh pemandangan sunset yang spektakuler karena dihiasi dengan pelangi! Anjriiiiitt!! Pemandangannya indah banget.. bahkan foto pun tidak akan bisa melukiskan gimana indahnya sunset sore itu. Matahari begitu cepat terbenam, padahal gue masih belum puas foto – foto, tapi gue harus lanjut jalan lagi sebelum gelap, dan yes!! Akhirnya gelap juga.. perjalanan tetap dilanjutkan sampai kita dapat tempat untuk ngecamp. And thanks God kami tiba di Puncak 1, gue dan temen – temen bergegas untuk bangun tenda karena anginnya gilaaaakkk!! Kenceng membabi butaaa.. *aiihh bahasa gue aneh! Tapi beneran deh, tuh malam anginnya kenceng banget.. kebayang gak pas gue lagi kencing di belakang tenda, terus anginnya dateng.. duuhh semeriwing itu si… ah sudahlah ini satu tujuh tamabah :p *untung air kencing gue gak jadi beku karena saking dinginnya xD

IMG_3797

Tenda udah siap, seperti biasa gue dan cemoonnkk dapet jatah masak. Malam itu gue bikin Fuyunghai, Fried Vegie, sama saute. Kami harus hemat air karena di Prau gak ada mata air, jadi masakpun harus sesuai dengan medan di gunung. Setelah kenyang, kami lanjut main kartu.. duh hari itu sepi banget, gak ada orang lain selain kami disitu. Gunung ini serasa milik sendiri :D

IMG_20140901_231222
Belajar Foto sama kaka Cemonnkk and finally! see what I’ve got? :D
IMG_3812
Dieng at Night from Above

Pagi – pagi buta gue sama cemoonnnkk udah bangun buat photo bintang dong, karena pemandangannya bagus banget, jadi gue gak akan sia – siain moment ini. Nunggu sunrise di tenda ditemani angin yang masih whuuuussss kenceng banget bahkan sampai bikin fly sheet kami terbang kaya permadani #yakaalleee..

IMG_20140902_095417
Sunrise Love from Mt. Prau

???????????????????????????????

Matahari pagi itu juga gak kalah indahnya dengan di gunung lain, memang yang orang bilang itu benar “Prau itu tempat ngeliat sunrise dan sunset yang keren dan bisa liat semua gunung di jawa tengah” benar saja, makin meninggi mentari pagi itu, makin terlihat jelas semua keindahan Gunung Prau. Gue sempetin untuk jalan – jalan lewatin bukit teletubies dan pemandangannya memang bikin gue dan temen – temen berdecak kagum.

IMG_5109

IMG_5098

“nikmatilah waktu kalian, sebelum kalian tidak bisa menikmati lagi waktu tersebut! enjoy your youth! :D”

IMG_5097

Sayang, gue dan tim gak ngelanjutin perjalanan sampai puncak utama dimana bisa ngeliat pemandangan gunung Sindoro secara dekat di depan langsung. Well, karena masih banyak yang harus dikerjain gue dan temen – temen mutusin untuk turun ke Dieng karena petualangan di Solo dan Jogja sudah menunggu :D selesai packing, seperti biasa gue yakin semua rombongan pendaki akan ngelakuin hal yang sama.. apa hayo?? Yeap bener “Photo – photo” moment kaya gini harus diabadikan nih..

IMG_3846
Our Selfie always! :D

IMG_3884

IMG_20140904_180724

Dan If I have a chance, I will come back soon to Prau!

Perjalanan turun makin seru ketika jalur semuanya masih becek dan licin.. and you know what? Buat gue perjalanan turun adalah hal yang paling menyiksa dan berat, entah kenapa buat gue itu jauh lebih sulit daripada pas nanjak perjalanan naik. Sekali lagi jangan ditanya berapa banyak Gue, Obe, Cemoonnkk dan Dede jatuh dan tak bisa bangkit lagi.. eeaallaahh.. tapi disini yang menang jatuh terbanyak adalah Obe.. kepeleset terlucu adalah Cemoonnkk.. dan mereka semua ketawa – ketawa tanpa beban walaupun pantat sakit.

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Itulah temen – temen gue yang super ajaib, nyebelin, dan kadang baik :p

Pesen gue walaupun Prau gunung yang gak tinggi, please jangan underestimate dengan jalurnya apalagi sok – sok-an main naik tanpa registrasi dan tanpa perlengkapan mendaki yang safety dan standard.. jangan deh! Jangan kotorin nama Prau dengan hilangnya orang karena sok belagu di gunung, atau orang di SAR karena kehabisan makanan atau dehidrasi karena kurang air.

Jadi gunung apapun, tetaplah mendaki sesuai dengan aturannya sesuai dengan safetynya.

Happy Safe Trekking!

~abex~

Photo by Billy Djokosetio – Ongston Beartho – Abex

Puncak Bukan Segalanya! Berbijaklah :)

Hell- O September!

Howdy Jogja!

AS usual so many September Wish for this month.. yang jelas pasti berharap lebih baik semuanya. Pasti banyak banget nih yang nyanyi atau posting “september ceria” atau “wake me up when september ends” ah soooo mainstream.. :p gue sih lebih milih September nya Earth Wind And Fire, atau September nya Daughtry yang super mellow :D

Puncak Garuda - Mt. Merapi 2.914 mdpl
Puncak Garuda – Mt. Merapi 2.914 mdpl

Tapi saat ini gue bukan mau bahas soal September, tapi gue mau bahas soal yang terjadi di September tahun lalu. Well, setahun yang lalu gue naik gunung Merapi. Siapa yang gak kenal gunung yang paling sering meletus dan erupsi, gunung cantik yang merupakan bagian dari Taman Nasional di Indonesia yang terletak di tengah Pulau Jawa. Gunung dengan tinggi 2.914mdpl merupakan gunung berapi yang paling aktif di Indonesia, jelas ajah lo sering liat dong berita tentang Merapi yang bergejolak, yah setahun pasti ada beberapa kali.

Tengah malam tepat pukul 1.30 pagi, gue sudah bersiap untuk berangkat ke pintu masuk gunung Merapi via Selo, malam itu gue menginap di Selo Pass Hotel. Hotel yang nyaman dan dengan pemandangan cantik dikawasan Selo harganya dimulai dari 250ribuan. Setelah registrasi dan melakukan pengecekan ulang, guide yang berasal dari salah satu kampus di Jogja membawa gue mendaki Gunung Merapi.

Gue memakai jasa trip organizer dari Jogja, dan ternyata sebelum berangkat gue ditegur oleh guide/porter local. Mereka bilang ke guide gue “gak boleh naik kalau pakai guide dari luar harus pakai guide local” sampai 1 jam mereka bernegosiasi akhirnya jam 2.30pagi rombongan gue baru bisa start trekking. Duh.. ini baru mau mendaki tapi sudah gak nyaman..

 Dan eng ing eng…  baru mulai trekking, perut gue mules dong bahkan gue sampai keringet dingin. Saking gak tahan, yah dengan malu hati gue bilang sama guidenya yang masih anak kuliahan itu “mas, gue mau poop nih, gak tahan.. lu jagain gue yah disitu, gue naik bentar” –  dia manggut tanda setuju. Mulai menggali dan ah bagian ini tidak perlu dijelaskan, yang jelas ini bagian dari perjalanan mendaki gunung di Indonesia, yah suka gak suka saat perut lo mules mau poop, lo harus ahli menggali lobang untuk buang air besar karena inget, di gunung gak ada kamar mandi apalagi WC umum, kecuali kaya di Kinabalu atau di Himalaya disana masih ada WC :D

Gak perlu gue jelaskan gimana nikmatnya setelah poop, karena gue baru bisa ngegas ces pleng mulain mendaki setelah perut kosong dan gak mules lagi. Oiyah inget loh, kalo buang air jangan di jalur woooyyy!! Jangan nebar ranjau dijalur pendakian. Cari tempat yang tersembunyi dan jarang dilalui trus gali lobang, kalau gak mau gali lobang yah lo bawa kembali deh hasil poop lo :D

The Light is coming
The Light is coming

Jalur Merapi via Selo ini lumayan nanjak, di sepanjang jalan gue ketemu alay – alay yang baru naik gunung pake celana pendek tengah malam, pake sendal jepit, bawa – bawa radio, terus cewe – cewenya jalan sambil ngoceh bahkan sambil teriak – teriak. Mereka mendaki sekampung booookkkk, berisik banget… pelan sambil lewat gue nyinyir “hoy, ini bukan emol, bukan rumah lu, berisik jangan teriak – teriak!” mereka diam dan I bet.. mereka di belakang ngedumel ngomongin gue.. – like I care? :D

Sebelum memasuki Pasar Bubrah gue sempet dibawa nyasar sama guide gue, duh.. guide macam apah ini… udah cape dan kesasar lagi.. tapi gue gak boleh emosi, walaupun kesel at least I should do something.. stay calm and find the solution. Akhirnya kita balik ke jalan awal dan thanks God, ketemu jalur utama lagi dan gue bisa ngelanjutin pendakian gue.

Jalur Pendakian Merapi
Jalur Pendakian Merapi

Angin di Merapi mulai tidak bersahabat, saat itu gue tiba di Pasar Bubrah sekitar jam 4.30 pagi dingin bangetttt.. fleece dan windbreaker gue masih tembus kena angin. Tapi perjalanan gue belum selesai, gue ditemani 1 guide mulai summit attack. Jalur pasir dengan batu kecil benar – benar membuat perjalanan gue semakin berat. Satu langkah naik, dua langkah turun.. begitu terus….

Semakin berat dan semakin mengeluh akan semakin berat, itulah kunci mendaki gunung. Makanya cobalah untuk menikmati setiap perjalanannya. Gue berhenti sejenak karena kepala gue mulai sakit, gue pikir dengan minum minuman hangat dan makan roti bisa membuat sakit kepala gue hilang, tapi ternyata gak :( sambil nikmatin sunrise pagi itu, gue melihat puncak sekitar 50 meter lagi, namun gue memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan gue karena sakit kepala yang begitu hebat.

Sunrise From Mt. Merapi
Sunrise From Mt. Merapi

Gue duduk diam sambil menikmati sunrise, ngelamun sendirian diterpa angin yang kencang dan kemudian berpikir “gue harus ngalahin ego gue untuk gak muncak” gue harus turun karena kondisi kesehatan gue gak memungkinkan.. dan gue harus berbijak mengambil keputusan.. itulah mendaki gunung, yang ditaklukan bukan puncak tapi ego diri sendiri :)

I Love Indonesia - Mt. Merapi
I Love Indonesia – Mt. Merapi

Well, puncak bukan segalanya, karena kesehatan jauh lebih penting. Hati yang kesal disepanjang jalan selama pendakian, juga bisa bikin mental down. Sakit kepala yang tidak bersahabat membuat gue memutuskan untuk berhenti mendaki padahal puncak hanya tinggal 50 meter lagi.  Kenapa? Karena gue merasa harus berbijak dengan tubuh gue, puncak gak akan lari kemana – mana tapi kesehatan itu yang paling utama.

Pasar Setan - Pasar Bubrah Mt. Merapi
Pasar Setan – Pasar Bubrah Mt. Merapi
Action! Pasar Bubrah
Action! Pasar Bubrah

Gue turun ke Pasar Bubrah dengan hati senang walaupun kepala masih sakit. Kenapa senang? Karena gue berhasil mengalahkan “EGO” gue untuk tidak muncak dan lebih mementikan kesehatan gue.. satu pilihan yang bijak namun banyak orang tidak mau melakukannya. Karena untuk sebagian orang, “puncak adalah segalanya” mereka berpikir bahwa kalau gak sampai puncak berarti gagal, dan belum tentu bisa balik lagi ke gunung itu..

Tapi buat gue berbeda.. kegagalan utama dalam naik gunung adalah “bukan ketika tidak sampai puncak, melainkan ketika tidak bisa sampai dirumah dengan selamat” – “puncak hanyalah sebuah bonus, puncak adalah sebuah penghargaan atas semua kerja keras dalam pendakian, namun kembali ke rumah dengan selamat adalah keharusan” :)

Ecciiiyyeeehh tiba – tiba gue jadi bijak begini, tapi itulah buat gue lebih penting mengalahkan Ego diri sendiri dan kembali pulang dengan selamat.

Masih di Pasar Bubrah walaupun sakit kepala, di foto harus tetep senyum :D
Masih di Pasar Bubrah walaupun sakit kepala, di foto harus tetep senyum :D

Istirahat di Pasar Bubrah, sakit kepala gue mulai hilang dan gue bisa turun ke Selo dengan dapetin beberapa foto – foto keceh.. well at least gue masih bisa pulang bawa cerita baru dan bawa foto baru dong :D

Mt. Merbabu View from Merapi
Mt. Merbabu View from Merapi
Pemandandang di Merapi Keren!! depannya ada Gunung Merbabu yang gak kalah kerennya! :D
Pemandandang di Merapi Keren!! depannya ada Gunung Merbabu yang gak kalah kerennya! :D

IMG_2753

Dear Merapi… I promise, I will be back soon… karena pemandangan di Merapi indah banget!! Gue masih mau explore lebih soal merapi, tanpa ada masalah guide, tanpa perut mules, tanpa guide yang bawa gue nyasar, tanpa sakit kepala, tanpa hati yang kesal/dongkol.. :D

Si kembar Sindoro - Sumbing di Belakang :D
Si kembar Sindoro – Sumbing di Belakang :D

IMG_2782

Disini gue belajar, hati yang tenang dan damai akan membuat perjalanan pendakian nyaman.. :)

~abex~

Tanah Tertinggi Pulau Dewata – Gunung Agung

Hell-O Bali!

Gunung Agung Via Pura Pasar Agung - Selat
Gunung Agung Via Pura Pasar Agung – Selat

Buka – buka album foto entah kenapa kepengen banget ceritain tentang Gunung Agung. Tapi ini bukan gunung Agung yang ada di mall – mall yah, gue bukan anak emol :p ini tentang menikmati Bali dari tanah tertingginya. Entah kenapa sekali lagi gue bilang keindahan Bali tuh bukan Cuma pantainya ajah, karena Bali bukan lagi Cuma soal Kuta atau soal pantai lain. Tapi coba deh sekali – kali liat Bali dari ketinggian. Indah banget..

Saat itu setelah turun dari Gunung Batur, gue hanya punya waktu istirahat setengah hari kemudian malamnya sekitar jam 7an gue ngelanjutin perjalanan lagi ke Karangasem untuk mendaki Gunung Agung. Kali ini karena waktunya padat, gue dan temen – temen lebih memilih day trek /  tek – tok naik malam dan langsung turun pagi harinya. Jarang banget gue mau naik gunung malam, tapi kali ini gue harus coba dan tentunya dengan perlengkapan yang sudah disiapkan se-safety mungkin.

Setelah 3 jam perjalanan,akhirnya gue sampai juga disatu tempat namanya Pura Pasar Agung – Selat, Karangasem. Selain via Pura Besakih, dari Pura Pasar Agung – Selat kita juga bisa mendaki Gunung Agung, bedanya jalur via Pasar Agung lumayan berat karena nanjak tapi dekat jaraknya. Sedangkan via Besakih disarankan untuk nge-camp dan butuh waktu 2 hari 1 malam normalnya. Dan ada satu jalur lagi yaitu via Budakeling lewat nangka.

Sebelum start trekking, gue sempetin untuk carbo-loading dan tidur dulu. Pendakian akan dimulai sekitar pukul 1.30pagi. Suasana di Pura Pasar Agung itu bener – bener mistik banget, tenang, syahdu, dan malam itu banyak bintang bertaburan. Gue suka banget, walopun sedikit serem karena sepi. Oiyah mendaki Gunung Agung itu wajib pakai guide (jika belum pernah), tapi ini bagus karena menjadi standard pendakian disini, walaupun banyak pendaki yang gak mau pakai jasa guide karena katanya mahal sekitar 250.000 –  350.000/day. Waktu itu gue pakai 1 guide dan 1 porter dikenakan Rp. 600.000.

Uniknya,sebelum pendakian gue ditanyain oleh guide tersebut.. “ada bawa makanan yang mengandung daging sapi?” gue bilang ga ada. Sambil curious gue bertanya “kenapa memangnya Pak?”  mereka menjelaskan “gunung Agung adalah gunung yang suci di Bali, gunung ini sudah seperti “mekahnya” umat Hindu di Bali, dan tentunya tau dong kalau umat Hindu di Bali tidak memakan daging sapi, oleh sebab itu makanan yang mengandung daging sapi, tidak diizinkan dibawa mendaki ke gunung Agung” cukup jelas alasannya, dan sebagai pendatang gue harus menghormati kebudayaan dan adat istiadat setempat.

Pukul 1.30 gue dan temen – temen memulai pendakian, udara kali itu dingin banget, angin semilir menemani pendakian gue. Masuk hutan bambu, jalan setapak mulai dilewati sedikit menanjak perlahan tapi pasti. Tubuh memang sedikit lelah tapi semangat tidak pernah lelah kalau untuk yang namanya “mendaki gunung”. Vegetasi mulai berubah, hutan mulai menghilang diganti oleh pepohonan yang tidak terlalu tinggi. Jalur semakin terjal, bebatuan menghiasi track yang gue lalui malam itu. Ampun gilaaakkk… gue banyak berhenti karena tanjakannya bener – bener asssoooyy..

Gue mulai ditinggal 2 orang teman, karena gue lebih memilih nemenin si Cemoonnkk yang sudah mulai ga tahan dengan ngantuknya. Sepanjang jalan dia bilang ga tahan karena ngantuk, bawaannya pengen tidur, iyah dia emang pelor, tapi gak tidur di jalur juga kali. Kenapa? Karena dia bisa kena potensi AMS (acute mountain sickness) atau penyakit ketinggian dan itu fatal akibatnya. Perlahan gue tetap dampingin Cemoonnkk yang sudah mulai merem sambil jalan. Ampun takutnya… bisa – bisanya dia jalan sambil merem, nah gue apa kabar? gue takut dia jatoh karena jalur yang cukup terjal – inilah ajaibnya travelmate gue XD.  Bapak Guide masih setia nemenin kami, dan itulah gunanya guide setidaknya gue merasa aman karena ada orang yang berpengalaman dan tau jalur pendakian ini.

Jalur semakin nanjak gak karuan, dan Cemoonnkk pun masih ngantuk disepanjang jalan. Perlahan kami berdua tetap mendaki satu persatu batu tinggi yang butuh tenaga ekstra untuk melewatinya. Kerlap kerlip lampu di kota sudah mulai terlihat, gue sudah semakin tinggi. Bali terlihat begitu indah dari ketinggian…

sunrise
sunrise

Matahari mulai muncul dari ufuk timur, warna orange pekat menghiasi langit pertanda fajar akan berganti pagi. Indah banget hari itu, ditemani angin yang gue bilang kenceng banget mungkin sekitar 100km/jam kali. Gila, untuk manjat batu pas angin lagi dateng, gue harus merebahkan badan ke batu dan pegangan, karena badan akan berasa goyang tertiup angin. Bahaya banget tapi sepadan dengan pemandangannya. Pendaki lain mulai bermunculan, gue ketemu 2 orang pendaki Bali, 1 orang pendaki Bandung, 1 orang Jepang dan sisanya banyak “Ebul” maksud gue “Bule” mungkin ada sekitar 5 rombongan. Puncak sang Agung belum juga keliatan, sementara tenaga sudah hampir terkuras abis, gue mulai lapar, gue memutuskan untuk istirahat sejenak untuk ngemil sambil nungguin Cemonnkk istirahat.

Jalur Pendakian Gunung Agung
Jalur Pendakian Gunung Agung

Pendaki dari Bali tersebut negor gue, dan bertanya gue darimana.. “gue bilang gue pemula dating dari Jakarta” percakapanpun  mengalir dan dia bilang “mbak, tenang ajah kalau sudah mendaki Gunung Agung via Selat, mbak bisa mendaki gunung Rinjani, Semeru, atau gunung laiinya dengan lebih mudah, karena jalur Gunung Agung via Selat ini termasuk jalur yang tersulit” – duh dalem hati gue, mudah dari hongkong, tetep ajah yang namanya gunung yah susah dan butuh tenaga extra makanya naik gunung bukan hobby sembarangan karna disitulah nikmatnya #ttssaahh  *dia ga tau kemarin gue abis dari Rinjani dan hamper mewek karna jalur muncaknya :p *tapi beneran buat gue jalur Agung jauh lebih berat daripada jalur lainnya.. so far :)

Jalurnya Asooooyyy
Jalurnya Asooooyyy
Puncak Agung 2
Puncak Agung 2 – My Travelmate Cemoonnkk

10 menit kemudian, akhirnya gue tiba juga di Puncak 2 Gunung Agung tentunya gue melewati batu – batu yang makin terjal dan susah banget untuk dilewatin. Ga ada hal lain yang gue rasain kecuali rasa bahagia melihat megahnya Sang Agung, puncak 1 Gunung Agung terlihat gagah berdiri tepat didepan mata gue.

Puncak Agung 3.142mdpl
Puncak Agung 3.142mdpl
Kawah Gunung Agung
Kawah Gunung Agung

Kawah Gunung Agung yang masih aktif terlihat luas banget. Gunung Agung dengan tinggi 3.142mdpl adalah gunung berapi dengan tipe stratavolcano mempunyai keistimewaannya sendiri, pemandangan yang disajikan indaaaaaaaaaaaaahhhh banget!! Ga bosen deh liatnya. Di Puncak Agung terdapat semacam tempat berdoa untuk masyarakat Hindu, ada sajen, patung – patung seperti pura kecil. Hawa mistiknya juga masih berasa kental sekali. Saat turun nanti kita akan melewati “tirta” tempat air suci yang dipercayai oleh umat Hindu, dan disepanjang jalurnya di dekat Tirta, gue nemuin banyak banget monyet, sama seperti di Batur atau di Rinjani.

From The Roof Top Of Bali - 2nd Peak Of Mt. Agung
From The Roof Top Of Bali – 2nd Peak Of Mt. Agung
Tempat Doa Umat Hindu di Gunung Agung
Tempat Doa Umat Hindu di Gunung Agung
my team..
my team..

Gunung Agung jadi salah satu Gunung Favorit gue, jalurnya yang ampun susah banget.. beneran.. gillaakkk.. tapi terbayar dengan pemandangan yang aduhai indah banget.. ini bukan versi on the spot loh, tapi versi gue sendiri :D – liat ajah nih di videonya disini :D Bali Adrenaline

Coretan di Gunung Agung dari si tolol Btw, just ignore the model :p
Coretan di Gunung Agung dari si tolol
Btw, just ignore the model :p

Oh iyah tapi sayang, di Gunung Agung sudah banyak orang – orang tolol yang coret – coret bebatuan disepanjang jalur. Kebayang dong gunung suci kaya gituh dikotorin, sangat menyedihkan.. buat gue orang yang ngotorin alam itu lebih rendah daripada sampah yang dibuat soooo pathetic!

Ah! Indah banget hari itu, bisa sampai di Puncak Agung dengan selamat, dan tentunya kembali ke kota dengan selamat, walaupun harus nemenin orang tidur disepanjang jalur :D tapi itulah gunanya sahabat bukan? Dia ga akan biarin sahabatnya jalan sendirian saat mendaki, karena buat gue puncak gak akan lari kemana – mana, namun keselamatan sahabat gue adalah yang utama :)

travelmate
travelmate
Jangan lupa Selfie everywhere :D
Jangan lupa Selfie everywhere :D

So, pemilihan teman trekking juga penting, carilah teman/sahabat yang bisa lo percaya untuk nemenin lu saat mendaki, bukan yang ninggalin lo saat lo susah/sakit, bukan yang hanya menunggu lo dipuncak, tapi “mereka yang akan selalu berjalan bersama lo apapun keadaan lo”

~abex~

the cloud above mt. Agung
the cloud above mt. Agung
Mt. Agung
Mt. Agung

All photo belong to Abex & Billy Djokosetio