The Extraordinary Ujung Kulon (Part 2 – Peucang – Cibom – Ciramea)

Peucang Island
Peucang Island

Pagi – pagi setelah sarapan petualangan gue di Ujung Kulon dilanjutkan, kali ini gue menuju satu pulau cantik yang bernama Pulau Peucang. Ini yang paling mainstream sih buat gue di kawasan Ujung Kulon, karena pulau ini cukup ramai pengunjung. Perjalanan dari Handeuleum ke Peucang hanya dibutuhkan waktu kurang dari 1,5 jam. Dan gue lewatin gugusan pulau – pulau kecil yang sepi tapi ternyata mempunyai pesona yang gak kalah dengan pulau lainnya. Contohnya Pulau Panaitan, untuk orang Indonesia sih pulau ini gak cukup terkenal, tapi buat pecinta Surfing ini surga. Pulau yang masih asri ini memang kerap digunakan untuk surfing karenan mempunyai ombak yang cukup bagus.

IMG_4053

Mendekati Pulau Peucang, gue minta untuk berhenti buat snorkeling. Sayang dasar laut Ujung Kulon saat itu keruh karena habis hujan, jadi pemandangan bawah laut saat itu memang gak sebagus yang orang bilang. Ujung Kulon memang mempunyai keunikan tersendiri, selain pulau – pulau nya yang masih asri, pemandangan bawah lautnya juga gak kalah indah. Kawasan dengan luas sekitar 122.956 Ha; (443 km² di antaranya adalah laut) benar – benar masih bersih, selain tempat untuk konservasi Badak, di ujung Kulon ini juga banyak terdapat binatang masih masih liar contohnya yah kaya di pulau Peucang, disitu banyak banget Rusa, Kijang, gue liat biawak juga.

IMG_4079

Sampai di Peucang, gue bermain di pantai dengan pasir yang putih dan bersih. Akh! Buat gue Ujung Kulon salah satu Taman Nasional yang paling bersih daripada beberapa Taman Nasional yang gue datengin. Entah yah kalo sekarang ini, waktu gue dateng itu bersih banget, sementara tau dong beberapa orang yang mengaku dirinya pencinta alam atau bahkan turis, masih banyak dari mereka yang suka ninggalin jejak sampah.

IMG_4064

Puas main di Peucang, gue lanjut jalan lagi ke Pulau Cibom, tempat ini juga salah satu padang rumput tempat para hewan liar itu kongkow – kongkow cantik. Sepanjang jalan gue sedih liat pulau ini begitu kotor, kata si guide kemarin orang – orang dari pakistan ilegal terdampar di Ujung Kulon, mereka adalah imigran gelap yang mau menuju Australia, namun sayang kapal mereka keburu terdampar di Ujung Kulon dan mereka memilih untuk tinggal di Pulau Cibom sampai akhirnya petugas mengevakuasi mereka dan mengirim kembali mereka ke negarannya.

Cibom
Cibom

Dari Cibom, perjalanan dilanjutkan lagi ke satu tempat  yang menurut gue ternyata jauh lebih indah daripada semua pulau yang gue datengin disini. Cirame adalah tempat yang biking gue makin jatuh cinta dengan Ujung Kulon. Emang indah lah tempat ini.. Taman Nasional Ujung Kulon ini menjadi Taman Nasional pertama dan juga diresmikan oleh UNESCO menjadi World Heritage (Warisan Dunia) pada tahun 1991. Ujung Kulon juga mempunyai sejarah yang berkaitan dengan letusan hebat Gunung Krakatau, karena Gunung Krakatau menjadi satu kawasan dengan Ujung Kulon.

Untuk menuju Ciramea, gue harus trekking sekitar kurang lebih 2 jam, bedanya dengan trekking di gunung di hutan ini panas, yah namanya juga ditengah laut. Hutannya masih bagus walau terlihat gersang. Masih banyak burung – burung hornbill dan gue lupa apa bahasa Indonesianya (ciiee sombong) jalurnya gak terlalu berat, cuma sedikit panas ajah.

IMG_4197
Ciramea – The Hidden Paradise

Setelah 2 jam lebih jalan, akhirnya kita sampai disatu tempat. Satu kata yang gue ucap dalam hari “this is heaven” bagaimana gak, gue sampai disatu tempat dengan hamparan pantai yang luas, bersih, tidak ada orang yang dateng dan ada sungai kecil yang jadi sumber mata air dengan air tawar yang super fresh! Kapan lagi di laut ketemu air tawar, gue bisa mandi – mandi cantik bilasan ketika abis main air asin.

IMG_4329

Guide dan crew yang bertugas langsung bangun tenda, yeap di Ciramea tidak ada pos atau penginapan jadi hari itu judulnya camping di pantai. Seru banget deh, gue berasa milikin tempat tersebut private banget karena gak ada satupun orang kecuali rombongan gue. Gue langsung ganti baju dan pake bikini dan cuuuss main air! Yah berhubung sepi gue mau narsis dan ceritanya jadi model bikini majalah pribadi yang ga akan diterbitkan karena kalo diterbitkan dan orang liat gue pake bikini, dijamin akan trauma seumur hidup.. yaaa kaalleee..

IMG_4249

Puas bermain di pantai, jadi model (pribadi) seharian, dan waktunya nikmatin sunset. I never thought that I will get such a beautiful sunset on this island! Anjrit! Gilaaaakkk sunsetnya kereeennn banget! Sayang gue Cuma bisa nikmatin sendiri, ga ada pasangan atau travelmate yang nemenin dan kemudian menggalau ditengah deburan ombak, garuk – garuk pasir..

The beautiful sunset of Ciramea - Ujung Kulon
The beautiful sunset of Ciramea – Ujung Kulon

Sore yang indah itu ditutup dengan sempurna oleh indahnya Sunset. Dan gue bersiap untuk BBQ sajian seafood yang kita beli di Nelayan yang lewat saat menuju Cibom siap untuk disantap. Sayang gue lupa foto, yah secara gue udah keburu lapar maklum seharian abis jadi model ~ sabun colek.

Malam itu indah, hanya ada gue yang duduk di bebatuan di tepi pantai ditemani taburan bintang yang rasanya deket banget.. Indah banget.. gue berucap, Akh! Tuhan terimakasih Indonesia dan Alamnya memang indah..

Esok harinya, gue bersiap untuk kembali ke Jakarta. Its really not good idea kami lewat jalur yang berbeda dan dengan ombak yang jauh luar biasa bikin gue mabok. Gue extend satu malah di daerah Sumur karena saat itu ketika sampe Sumur, udah kesorean.

Well, holiday its over time to go back to the “lovely” town Jakartaaahh..

Dan Ujung Kulon, menyisakan seribu keindahan yang ga akan gue lupakan! You should try guys.. pake cara gue yah yang antimainstream bukan Cuma nangkring di Peucang, tapi sebisa mungkin jelajahin semua pulau dan keindahannya. Dan jangan lupa, bawa kembali sampah kalian! :)

Kalau mau liat photo nya bisa liat di Gallery yah :) ~ selamat mupeng :p

~all photo belong to Abex~

Advertisements

The Extraordinary Ujung Kulon (Part 1 – Handeuleum – Cigenter)

Ujung Kulon National Park - The World Heritage
Ujung Kulon National Park – The World Heritage

Kali ini gue dapet kesempatan buat explore Ujung Kulon, satu persatu mimpi gue untuk konservasi ke 50 Taman Nasional di Indonesia sepertinya dibukakan jalan dengan mulus :)

Ujung Kulon adalah salah satu Taman Nasional di Indonesia yang diresmikan menjadi World Heritage atau Warisan Dunia karena kaya akan habitat Badak dan luas hutan lindungnya mencakupi syarat untuk menjadi warisan dunia. Tapi sayang, sekarang Badaknya sudah sangat jarang ditemui, populasinya sudah sangat berkurang. Banyak badak yang sudah masuk tivi dan jadi bintang iklan. Okay lah anggap ini garing…

Setelah double check packing, gue bersiap – siap untuk berangkat ke Ujung Kulon. Gue sengaja jalan pagi – pagi buta dimana maling baru pada pulang dan tukang sayur baru pada berkeliaran well bagian itu gak penting, tapi untuk menghindari macetnya kota tercinta makanya gue lebih memilih mengorbankan waktu tidur gue daripada harus ber “macicah” (baca macet) di jalan.

Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Sumur – pelabuhan dimana gue akan nyebrang sekitar 5-6 jam aseli jauh banget, sampe tepos pantat gue kelamaan duduk. Tapi itulah seni dari ngetrip, lu harus siap untuk hal – hal kaya gituh contohnya yah penipisan pantat dan pelebaran hati untuk berlapang dada eeeeaaa sumpah bagian itu gak penting banget!

Kapal Menuju Ujung Kulon
Kapal Menuju Ujung Kulon

Akhirnya siang itu gue sampe di Sumur dan langsung menuju ke Handeuleum , dengan kapal kapasitas 20 orang namun saat itu hanya dimuati dengan 7 orang dan 3 crew kapal. Saat itu cuaca tidak begitu bagus, hujan dan ombaknya bikin gue mabuk jelas bukan dimabuk cinta tapi bener – bener dimabuk ombak laut. Gue lebih memilih tidur masuk ke dalam kapal ketika mulai kedinginan dan masuk angin karena sok cool santai di depan kapal.

Handeuleum
Handeuleum
Homestay - Handeuleum
Homestay – Handeuleum

Finally! Tiba di Handeuleum dan rombongan gue langsung memilih untuk melanjutkan tour ke sungai Cigenter tempat dimana bisa melihat jejak badak secara langsung. Handeuleum adalah salah satu pulau kecil yang banyak rusanya, hutannya masih asri banget. Hanya ada 1 homestay yang basic banget dan rumah – rumah kecil untuk para ranger. Well, not that bad gue suka kok di Handeuleum.

???????????????????????????????

Canoeing - Cigenter
Canoeing – Cigenter

Perjalanan sore itu dilanjutkan ke Cigenter menggunakan canoe, dan kita mengarungi sungai yang seperti berada di pedalaman Amazon, yah gue sih belum pernah ke Amazon tapi anggaplah seperti itu. Sungai air tawar (ya iyalah namanya ajah sungai pasti airnya tawar, kalo asin namanya laut!) ini buat gue terkesima, dikanan kirinya hutan tropis yang tumbuh subur keren banget! Buat gue sih ajaib ajah ada sungai ditengah laut yang hampir memasuki kawasan Samudera Hindia ini. Yang menarik dari Cigenter adalah ketika kita bisa melihat langsung hewan liat secara dekat, gue liat ular python tepat diatas kepala berjarak Cuma 2,5 meter ajah. Gilaaaakkk!! Takjub dan takut dong. Terus gue nanya iseng ke guide nya “kang disini ada buaya?” – kata si akang “oh ada banyak buaya disini, Selasa kemarin baru ajah ketangkep satu. Kalo eneng beruntung sekarang juga bisa ketemu buayanya” jawab si akang santai sambil dayung canoenya. Gue tercengan sambil nyeletuk dalam hati “gigi lu bejendol beruntung ketemu buaya, ogah banget gue.. Cuma pakai canoe sekecil ini dan lagi banjir lagi, males banget dikejar – kejar buaya”

Sungai Cigenter
Sungai Cigenter

Gue Cuma bilang ke si akang “kang, moal atuh ketemu si buaya, ini mah bukan acara animal planet atau discovery channel – amit – amit gue takut” – gue gak berani bilang yang di dalam hati gue, takut daripada nanti gue diturunin di tengah sungai terus ditinggal dan jadi santapan buaya..

Cidaon Grassing Land
Cidaon Grassing Land

Perjalanan dilanjutkan lagi ke salah satu “grassing land” seperti padang rumput tempat dimana semua hewan dikawasan Cigenter merumput, nyantai, arisan, cari makan atau bahkan mungkin cari jodoh. Dan tempatnya KEREEENNN banget.. hijaaauu semua. Dan disitu gue liat babi, burung merak, burung hornbill, banteng, tapi sayang gue gak liat badak. Jelas lah, walau Ujung Kulon terkenal dengan “rumahnya Badak” tapi lu akan sulit ketemu badak, karena badak penciumannya tajam dan bisa nyium bau manusia dari radius beberapa kilometer, sehingga badak itu ga akan nongol nyamperin si manusia buat say hi atau sekedar caper lalu lalang.

Cidaon Grassing Land * just ignore the model
Cidaon Grassing Land
* just ignore the model
Menara Pemantau Cidaon
Menara Pemantau Cidaon

Setelah puas main di Cigenter, gue balik ke Handeuleum dan berisitirahat karena masih banyak kejutan – kejutan lagi di Ujung Kulon dan gue akan cerita di part berikut nya yah.. ditunggu yah.. baca lagi yah.. please baca lagi.. awas loh kalo gak baca.. :))

~All photo belong to Abex~

My First “Tidung”

???????????????????????????????

Setelah jenuh menghadapi rutinitas selama di Jakarta, temen gue ngajakin “get lost” ke pulau Tidung, mungkin saat ini Pulau Tidung adalah pulau yang paling mainstream hahahaha secara banyak banget pengunjung yang dating dan hamper ga pernah sepi.

Hari itu gue packing dan mempersiapkan semuanya untuk perjalanan yang tidak terlalu jauh dari ibukota namun membutuhkan waktu extra untuk  mencapainya kesana. Tepat pukul 4.30 pagi itu, salah satu teman gue menjemput dan bergegas membawa gue ke salah satu pelabuhan yang super bau amis bernama “Angke”. Jelas saja amis, pelabuhan ini dikelilingi pasar ikan tradisional yang menjadi pusat perbelanjaan dan penampungan ikan. No wonder bau amisnya sangat melekat.

Pasar itu selalu ramai, hiruk pikuk pedagang yang berjualan membuat pasar itu makin berisik, belum lagi becek dan banyak sampah bertebaran dimana – mana, saying banget pemerintah kurang peduli dengan ini padahal angke adalah salah satu pelabuhan paling ramai untuk daerah tujuan wisata ke Pulau Seribu. Namun infrastrukturnya sangat buruk dan tidak terawatt,jalanannya jika hujan banjir, drainage systemnya tidak berfungsi dengan baik sehingga air tidak dapat mengalir keluar dan selalu becek.

Bayangin ajah kadang disela – sela jalanan yang becek itu, lo akan liat ikan mati bertebaran, kebayang dong baunya kaya gimana hehehhee.. Tapi gue bukan mau bahas soal muara angke, gue mau melupakan sejenak kepenatan di Jakarta cukup dengan sekedar nikmatin sunset dipinggir laut, atau main – main di pantai, atau bahkan sekedar ngebeer dan nikmatin malam di pulau itu cukup membuat gue happy.

Kapal kayu tradisional itu melaju,tidak cukup kencang namun perlahan pasti akan membawa gue ke Pulau Tidung. Dengan muatan yang jumlahnya cukup banyak, bahkan seperti kapal yang lagi di carter satu kelurahan penuh, gue berharap kapal itu gak karam karena keberatan beban penumpang. Maklum ajah, semua orang disini punya kepentingan, yaitu kepentingan cari uang jadi ga mikirin keselamatan, yang dipikirin hanya meraup penumpang sebanyak – banyaknya dan meraih keuntungan sebesar – besarnya tanpa ada yang peduli kapalnya overload dan mereka bodo amat melihat kapal yang over capacity tersebut.

Gue sandarkan tubuh gue dipinggir kapal, menikmati angin yang akhirnya bikin badan gue gak tahan karena mulai masuk angin, maklum gue orang kampung ahahahhahaa… akhirnya gue memilih berada didalam di sebelah nahkoda dan tidur karena mulai mabok laut. Ombak hari itu memang tidak bersahabat gak lama kemudian benar saja, hujan rintik mulai dating ah untung gue udah pindah kedalam kalo gak bisa basah kuyub sebelum main air di laut.

Tiba di Pulau Tidung, ngantri turun dari kapal udah kaya orang ngantri sembako, gue memilih untuk turun terakhir. Saat itu gue menggunakan jasa dari trip organizer yang memang khusus untuk melayani penjualan paket tour ke pulau seribu. Temen gue juga sih yang punya usaha itu, jadi saat itu di pulau itu ga ada satu pun orang yang gue kenal kecuali temen gue itu. Well such a new things, jarang – jarang gue mau jalan sendiri. Ternyata takdir berkata lain, disitu gue dikenalin sama romobongan temen gue yang dari Jakarta juga, well jadi deh gue punya temen untuk ngebeer dan nikmatin waktu di pulau.

???????????????????????????????

IMG00272-20120825-1656

Setelah makan siang, gue ikut rombongan untuk snorkeling namun saat itu gue hanya memilih untuk berjemur diatas kapal. Cuaca yang tiba – tiba berubah jadi cerah membuat gue lebih memilih untuk tetap kering tanpa harus basah – basahan di laut. Alibi yang baik bukan? Karena memang gue hanya ingin nikmatin suasana pulau dan santai. Gue ikut mejelajah dari satu pulau ke pulau lainnya, well its good to know that its not only about “tidung”

???????????????????????????????

Sore itu gue menghabiskan waktu di salah satu tempat yang bernama Jembatan Cinta, jembatan yang menjadi icon Pulau Tidung. Ah gue gak suka! Karena terlalu banyak orang, jadi gue lebih memilih untuk jalan ke pulau Tidung Kecil. Sampai tiba dimana gue duduk dipinggir laut dan menikmati terbenamnya matahari. Indah banget!

Bahagia itu sederhana..

IMG00287-20120825-17204

IMG00266-20120825-15071 IMG00284-20120825-17143

IMG_1933

Malam hari gue memilih untuk jalan ketempat yang sama bermodalkan beer dan rokok, gue duduk dipinggir laut ditemani music yang super asyik dan tentunya ditemani orang yang baru gue kenal di pulau tersebut.

Menikmati sinar bintang yang memantul dari air laut, deburan ombak, angin sepoi, beer, music… akh! Life is wonderful right?

Malam itu, gue lebih memilih untuk tetap terjaga dan benar – benar menikmati malam sampe bego. Sampe – sampe pas balik ke homestay pintu homestay nya udah dikunci dong. Terpaksa gue ngungsi di rumah orang hehehehe…

Sayang, terlalu cepat hanya semalam gue melewati hari di Tidung.. I want more!

for more photo please click here >> gallery

~abex~